Kalam Hikmah

Kamis, 18 Agustus 2011

PENDAHULUAN
Dalam suatu diskusi dengan topik pencakokan organ tubuh manusia dengan organ tubuh babi yang dihadiri oleh beberapa kalangan,mahasiswa serta civitas kampus seorang peserta diskusi melontarkan pandanganya tentang keharaman pencakokan organ tubuh tersebut menurut pandangan syareat islam, dalam pandangan mahasiswa tadi yang notabene jebolan pesantren terkemuka di jawa timur, hukum pencakokan organ manusia dengan organ tubuh babi adalah haram, karena telah mengubah suatu ciptaan Allah dengan menggunakan sesuatu yang najis.
Pada kesempatan yang lain seorang kiai yang ternama dijawa timur ditanya oleh seorang dokter tentang hukum operasi plastik yang baru baru ini kerap terjadi yang lebih kita kenal dengan operasi Face Off, dalam pandangan sang kiai kesemuanya itu adalah sesuatu yang tidak di ridlai Allah dan rasulnya karena oleh dalam al-Qur’an sudah jelas melarangnya.
Dari kedua ilustrasi diatas memberi kesan betapa masih kerdilnya pemahaman sebagian umat Islam, dari golongan terdidik sekalipun, terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang hingga kini. Bahkan seolah memberi kesan bahwa ada sebagian umat Islam yang masih anti ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lebih menyenangi hidup konservatif seperti zaman dahulu. Walaupun kadang-kadang pandangan dan sikap mereka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tidak konsisten. Sebagai contoh ada beberapa kalangan yang tidak mau menggunakan sendok dan garpu pada saat makan, karena menurutnya hal itu tidak sesuai dengan sunnah rasulullah SAW. Namun anehnya, mereka kemana-mana tidak berjalan kaki atau naik unta, seperti pada zaman Rasulullah, malainkan naik motor atau mobil yang tidak pernah dilakukan oleh rasul.
Jika kita menoleh kebelakang menapaki alur perjalanan sejarah peradaban umat manusia, maka sikap konservatif ini pernah menghinggapi semua peradaban didunia. Dari sejarah diketahui bahwa sikap seperti ini telah menimbulkan korban pada kalangan yang memiliki pandangan yang berbeda dengan keyakinan yang berkembang saat ini. Dalam sejarah Kristen tercatat banyak ilmuwan menjadi korban, oleh karena mempunyai pandangan yang berbeda dengan pihak gereja , sedang dalam sejarah Islam pengajaran filsafat pernah dilarang dipelajari termasuk diajarkan diperguruan tinggi kenamaan al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir .
Sejarah telah membuktikan bahwa adanya sikap konservatif terhadap pandangan-andangan baru, telah menghantarkan peradaban kedalam masa-masa kegelapan. Sejarah Islam telah mencatat bahwa masa keemas-an Islam (The Golden Age of Islam) terjadi pada masa pemerintahan (Abbasiyah), yang sangat terbuka terhadap perkembangan berbagai pemikiran baru. Bersamaan dengan dilarangnya belajar-mengajar filsafat, umat islam mengalami kemunduran, hingga terpuruk kedalam belenggu penjajahan negara-negara Barat.
Timbulnya kesadaran baru dikalangan umat Islam untuk keluar dari belenggu penjajahan, tidak terlepas dari keberanian beberapa pembaru dunia Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani Muhammad Abduh, yang menganjurkan agar umat Islam kembali mempelajari filsafat dan membuka diri kepada munculnya ide-ide baru .
Berangkat dari uraian diatas, maka dalam tulisan berikut ini akan dipaparkan bagaimana sambungan peradaban Islam pada masa keemas-annya dahulu terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, den gan maksud untuk meluruskan pandangan bahwa umat Islam itu seolah-olah anti ilmu pengetahuan dan teknologi.

Filsafat dan ilmu pengetahuan
Secara etimologi, Filsafat (Indonesia), Falsafah (Arab), dan Philosophy
(Inggris) diderivasi dari bahasa Yunani, yaitu Philos + Shopia atau Philoshopia.
William L. Reese dalam Dictionary of Philosophy (1980:431) menyatakan bahwa istilah filsafat diderivasi dari istilah philos yang berarti “love” atau “cinta dalam arti luas” atau “keinginan yang mendalam”, sedangkan sophia berarti wisdom yang berarti kebijaksanaan atau pandai. Jadi yang dimaksud dengan filsafat adalah Philosophy as Love of Wisdom (mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan atau mempunyai pengertian yang mendalam dan kebenaran) , jadi orang yang mempelajari filsafat adalah orang yang cinta kebenaran, untuk mencapai kebenaran seseorang harus mempunyai pengetahuan, seseorang yang mengetahui sesuatu, dapat dikatakan telah mencapai kebenaran tentang sesuatu tersebut menurut dirinya sendiri , meskipun apa yang dianggapnya benar itu belum tentu benar menurut orang lain .
Pengetahuan tidak sama dengan ilmu, karena ilmu adalah bagian dari pengetahuan. Seseorang yang mengetahui cara memainkan berbagai alat musik atau cara menggunakan berbagai alat untuk melukis, tidak dapat dikatakan memiliki ilmu bermain musik atau ilmu melukis. Oleh karena bermain musik dan melukis bukanlah ilmu melainkan seni. Demikian pula orang yang memiliki pengetahuan tentang adanya kebangkitan atau kehidupan setelah kematian, oleh karena hal tersebut telah berada diluar batas pengalaman manusia dan hal demikian itu telah menjadi urusan agama . Pengetahuan yang sebenarnya adalah menuntut dan mencari kebenaran, dengan tidak menghiraukan apakah pengetahuan ini dapat digunakan atau tidak. Pengetahuan yang tertentu dan teratur, dimana dia selalu waspada jangan sampai keliru akan hasil –hasil tahunya, inilah yang dinamakan ilmu .
Filsafat dikenal sebagai induk segala macam ilmu pengetahuan (mother Scientiarum) . Berbagai disiplin ilmu yang berkembang dewasa ini, pada mulanya adalah filsafat. Ilmu fisika berasal dari filsafat alam (Natural Philosophy) dan ilmu ekonomi pada mulanya filsafat moral (Moral Philosophy). A.Durant (1933) mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang bertugas merebut pantai, untuk mendaratkan pasukan invanteri. Pasukan invateri adalah pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan filsafat menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan . Ilmu mencari keterangan akan tetapi terbatas, filsafat mencari keternagna sedalam-dalamnya dengan tidak terbatas, karena ia mencari ketengan terakhir tentang sesuatu . Ilmu dilahirkan oleh folsafat, dan karena itu ibu bapak ilmu adalah filsafat, dan karena itu ilmu tidak boleh menceraikan dirinya dari filsafat. Karena filsafat islam itu telah dihentikan semenjak penyerangan Al-Ghazali dan kawan-kawannya, maka filsafat di Eropa telah berjalan sendiri dan melepaskan dirinya dari filsafat Islam. Sekarang ini orang memisahkan ilmu dengan filsafat, meskipun ilmu itu juga menyelidiki segala sesuatu, baik yang ada maupun yang mungkin ada, akan tetapi filsafat tetaplah filsafat tidak boleh merupakan kumpulan segala ilmu . Pada masa transisi ini ilmu tidak mempermasalahkan lagi unsur etika secara keseluruhan, namun terbatas pada unsur-unsur praktis guna memenuhi hajat hidup manusia. Meskipun demikian secara konseptual ilmu masih menyandarkan dirinya pada norma filsafat.
Pada tahap perkembangan lebih lanjut, ilmu menyatukan dirinya bebas dari filsafat dan berkembang berdasarkan penemuan ilmiah, sesuaidengan tabiat alam apa adanya. Pada tahap ini perkembangan ilmu tidak lagi berdasarkan metode normatif dan dedukatif, tetapi menggunakan kombinasi dari metode dedukatif dan indukatif, yang dihubungkan oleh pengujian hipotesis, yang dikenal dengan metode logico hypotetico-verificative. Auguste comte (1798-1857) membagi perkembangan pengetahuan kepada tiga tahap, yaitu: Tahap religius, metafisik dan Positif. Pada tahap pertama postulat ilmiah menggunakan azas religi, ilmu merupakan penjabaran (dedikasi) dari ajaran agama. Pada tahap kedua postulat ilmiah didasarkan pada azas metafisika, yaitu keraguan mengenai eksistensi obyek yang ditelaah. Pada tahap ketiga perkembangan ilmu, dilakukan pengujian positif terhadap semua yang digunakan dalam proses verifikasi yang obyektif.
Sumbangan Islam Terhadap Perkembangan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Terhadap 2 pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang yang disalin oleh St. Agustine (345-430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480-524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi .
Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan bukku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Phorphiry, telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di eropa, maka Jhon Salisbury, seorang guru besar filsafat di universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku organon karangan Aristoteles dari terjemahan terjemahan bahasa arab yang telah dikerjakan oleh filosof islam.
Selanjutnya telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari Orang orang Shopia atau Shophits ( 500 – 400 SM ) adalah Socrates ( 469 – 399 SM ). Kemudian diteruskan oleh Plato ( 427 – 357 SM ). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles ( 384 – 322 SM ). Setelah zaman Aristoteles sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya al-Kindi pada tahun 801 M. al-Kindi banyak belajar dari Kitab-kitab karangan Plato dan Aristoteles. Oleh raja al-Makmun dan raja Harun al-Rasyid pada zaman Abbasiyah, al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya plato dan Aristoteles tersebut kedalam Bahasa arab sejarawan menempatkan al-Kindi sebagai filosof arab pertama yang mempelajari filsafat, Ibnu al-Nadhim menempatkan al-Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam ( Natural Philoshopy ). Buku-buku al-Kindi membahas mengenai berbagai macam cabang ilmu pengetahuan seperti Geometri, Aritmatika, Astronomi, Musik , Logika dan filsafat. Ibnu Abi Usai’bia menganggap al-Kindi sebagai penterjemah Kitab-kitab terbaik ilmu kedokteran dari bahasa yunani kedalam bahasa arab. Disamping sebagi penterjemah, al-Kindi menulis juga berbagai makalah, Ibnu al-Nadhim dan al-Qafthi menyebut 238 dan Said al-Andalusy menyebutkan 50 judul makalah yang telah dituliskan al-Kindi, sedangkan sebagian dari Karangan-karangan tersebut telah hilang dan musnah . Nama al-Kindi sangat masyhur di eropa pada abad pertengahan. Bukunya yang telah disalin kedalam bahasa latin eropa berjudul De Aspectibus berisi tentang uraian Geometri dan ilmu optik, mengacu kepada pendapat Eulides, Heron dan Ptolomeus. Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisanya adalah filosof kenamaan Roger Bacon.
Beberapa kalangan beranggapan bahwa al-Kindi bukanlah seorang filosof sejati, DR. Ibrahim Madzour, seorang sarjana filsafat lulusan perancis yang berasal dari mesir, beranggapan bahwa al-Kindi lebih tepat dikategorikan sebagai seorang ilmuwan ( terutama ilmu kedokteran, Farmasi dan Astronomi ) daripada seorang Filosof. Hanya saja karena al-Kindi yang pertama kali menyalin kitab plato kedalam bahasa arab maka ia dianggap sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan filsafat pada dunia islam dan kaum muslimin .
Meskipun dalam beberapa hal al-Kindi sependapat dengan Aristoteles dan Plato, namun dalam Hal-hal tertentu al-Kindi memiliki pendapat tersendiri, al-Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa waktu dan bendaadalah kekal. Dan untuk membuktikan hal tersebut al-Kindi telah menggunakan pendekatan secara Matematik. Al-Kindi tidak sepaham pula dengan Plato dan Aristoteles yang menyatakan bahwa bentuk merupakan sebab dari wujud, serta pendapat Plato yang menyatakan bahwa cinta bersifat membiakkan. Menurut al-Kindi alam semesta ini merupakan sari dari sesuatu yang wujud (ada), Alam semesta ini merupakan kesatuan dari sesuatu yang terbilang, ia juga bukan merupakan sebab wujud.
Sepeninggal al-Kindi muncul filosof-filosof islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat. Filosof-filosof itu diantaranya adalah: al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Jamaluddin al-Afghany, Muhammad Abduh dan Muhammad Iqbal.
Al-farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berfikir logis (logika) kepada dunia islam. Berbagai karangan dari Aristoteles seperti categories, hermeuneutics, first and Second Analysis telah diterjemahkan oleh al-Farabi kedalam bahasa Arab. Al-farabi telah membucarakan berbagai system logika dan cara berfikir deduktif maupun induktif. Disamping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang di kembangkan sebelumnya oleh Phytagoras. Oleh karena jasanya ini, maka Al-Farabi diberi gelar guru kedua, sedang gelar gureu pertama diberikan kepada Aristoteles adalah karena usahanya meletakkan dasar ilmu logika yang pertama dalam sejarah .
Kontribusi lain dari Al-Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya untuk mengklasifikasikan ilmu pengetahuan. Al-Farabi telah memberikan definisi dan batasan setiap ilmu yang berkembang pada zamannya. Al-Farabi mengklasifikasikan ilmu kedalam tujuh cabang yaitu: logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqhi (hukum).
Ilmu percakapan dibagi lagi kedalam tujuh bagian yaitu: Bahasa, Gramatika, sintaksis, Sya’ir, menulis dan membaca. Bhasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam: ilmu kalimat mufrad, preposisi aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar dan aturan mengenai sya’ir yang baik. Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan sya’ir (puisi).
Matematika dibagi dalam tujuh bhagian yaitu : Aritmatika, Geometri, astronomi, musik, hisab baqi (Arte Ponderum) dan mekanika.
Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu.
Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika. Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi Madani, yang berarti sipil yang berhubunmgan dengan tata cara mengurus suatu kota. Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani.
Ilmu agama dibagi dalam ilmu fiqih dan ilmu ketuhanan/ kalam (theology).
Buku Al-farabi mengenai pembagian ilmu ini telah diterjemahkan kedalam bahasa latin untuk konsumsi bangsa Eropa dengan judul De Devisione Philosophae. Karya lainnya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa latin adalah De Scientiis atau De Ortu Scientearum. Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik dan geologi .
Ibnu Sina dikenal diBart dengan Avicienna. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai dokter dan penyair. Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk sya’ir, bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh Gerard Cremona di Toledo. Buku inikemudian menjadi buku teks (Text Book) dalam ilmu kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropa, seperti universitas Louvain dan Montpelier. Dalam kitab Canon Ibnu Sina telah menekankan bahwa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat. Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian. Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.
Kitab lainnya yang berjudul Al-Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (dibarat dikenal dengan AvenDauth-Ben Daud)di Toledo. Oleh karena Al-Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan olen Ibnu Daud terbatas pada ilmu logika, fisika, dan De Anima.
Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoritis dan bagian yang bersifat praktis. Bagian yang bersifat teoritis meliputi: matematika, fisika, dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi : Politik dan etika.
Dalam ilmu logoka ibnu sina memilki pandangan serupa dengan para folosof Islam lainnya seperti Al-Farabi, Al-Ghazali dan Ibnu Rusd, yang beranggapan bahwa logika adalah alat filsafat, sebagaimana dituliskan dalam sya’irnya:
Perlulah manusia mempunyai alat
Pelindung akal dari yang palsu
Ilmu logika namanya alat
Alat pencapai semua ilmu
Bebeda dengan filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di timur, Ibnu Rusyd (Averroes) dilahirkan di Barat (Spanyol). Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Baja (Avempace) dan ibnu tufail (Abubacer).
Ibnu baja dan Ibnu Tufail merupakan pendukung rasionalisme Aristoteles. Menurut Ibnu Tufail, manusia dapat mencapai kebenaran sejati dengan menggunakan petunjuk akal dan petunjuk wahyu. Pendapat ini dituangkan dengan baik dalam bentuk cerita Hay-Ibnu Yaqdzhan, yang menceritakan bagaimana Hayy yang tinggal pada suatu pulau terpencil sendirian tanpa manusia lain dapat menemukan kebenaran sejati melalui petunjuk akal, kemudian bertemu dengan Absal yang memperoleh kebenaran sejati dengan petunjuk wahyu, akhirnya kedua orang ini menjadi bersahabat .
Ibnu Rusyd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.
Ibnu rusyd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles yaitu: komentar besar, komentar menengah dan dan komentar kecil. Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa: Arab, Latin dan Yahudi. Dalam komentar besar, Ibnu Rusyd menuliskan setiap katadalam Stagirite karya Aristoteles dengan bahasa Arab dan memberikan komentar dibagian akhir. Dalam komentar menengah ia masih menyebut-nyebut Aristoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yabg ditulis murni pandangan Ibnu Rusyd.
Pandangan Ibnu Rusyd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati disbanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu rusydsebagai Atheis . Sebenarnya apa yang dikemukakan oelh Ibnu Rusyd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First Philosophy). Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai .
Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh ibnu Rusyd dan kaum ulama diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan puyla oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropa di zaman Renaisance. Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis. Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme). Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd dalam karyanya Tahafut-et-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rusyd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat diberbagai perguruan-perguruan Islam. Hoesin (1961) menyatakan bahwa pelaarangan penyebaran filsafat ibnu Rusyd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi . Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat .
Bersamaan dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropa mengalami kebangkitan. Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd terjemahkan kedalam bahasa Latin. Penterjemah karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo ketika Raimund menjadi uskup besar Kristen di Toledo pada tahun 1130-1150 Masehi, hasil dari terjemahan Toledo ini menyebar sampai ke Italia. Dante menulis Difina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari bahasa Arab kedalam bahasa Latin, oleh John Salisburry pada tahun 1182 M.
Seperti halnya yang telah dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rusyd dianggap dapat membahayakan Iman Kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada tahun 1209, lalu disusul dengan putusan papal lagate pada tahun 1215 M, yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rusyd.
Pada tahun 1215 saat Frederick II menjadi kaisar Sicilia, ajaran filsafat islam mulai berkembang lagi. Pada tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab kedalam bahasa Latin, pada tahun 1217 M Frederick mengutus Michael Scott ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslim, berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rushd di Eropa barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael scot. Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael scot telah berhasil menterjemahkan komentar Ibnu Rushd dengan judul De Coelo Et De Mundo dan bagian pertama dari kitab Anima.
Pekerjaan yang dilakukan oleh kaisar Frederick II untuk menterjemahkan Karya-karya filsafat islam kedalam bahasa latin, guna mendorong ilmu pengetahuan di Eropa barat, hal ini serupa dengan yang pernah dilakukan oleh Raja al-Makmun dan Harun al-Rasyid dari dinasti bani Abbasiyah, untuk mendorong berkembanganya ilmu pengetahuan di jazirah arab.
Setelah kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya, untuk tujuan itu putranya mengutus salah seorang yang berkebangsaan Jerman yang bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256 M. Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Mantiq karangan al-Farabi dan Ikhtisar Syair karangan Ibnu Rusyd, pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rusyd telah diterjemahkan kedalam bahasa latin, termasuk kitab Tahafut et-Tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada tahun 1328.
Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu Rusyd, sehingga saat itu berkembang 2 faham yaitu faham pembela Ibnu Rusyd ( Avveroisme ) dan faham yang menentangnya, kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rusyd antara lain : Pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan, dan Roger Bacon, mereka yang menentang Avveroisme kebanyakan menggunakan argumentasi yang dikemukakan oleh al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut el-Falasifah dalam hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropa Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam.
Jalan tengah, bagaimana seharusnya?
Urain diatas menunjukkan kepada kita betapa besarnya sumbangan peradaban islam terhadap pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, yang kita kenal seperti sekarang ini. Meskipun sampai saat ini masih terdapat kecendrungan untuk menafikan pengaruh peradaban islam terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, diantaranya sebagaimana ungkapan Rene Sedillot, yang menyatakan bahwa sumbangsih peradaban islam terhadap peradaban ummat manusia, hanyalah berupa pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanahpun yang ditanami.
Semangat mencari kebenaran yang ditempuh oleh pemikir yunani dan hampir padam oleh karena jatuhnya imperium Romawi, hidup kembali dalam kebudayaan islam. Wells ( 1951 ) mengatakan, jika orang yunani merupakan bapak dari metode ilmiah maka kaum muslimin merupakan bapak angkat metode ilmiah, metode ilmiah diperkenalkan kedunia barat oleh Roger Bacon ( 1214 – 1294 ) dan selanjutnya dimantapkan seagai paradigma ilmiah oleh Francis Bacon ( 1561 – 1626 ).
Semangat para filosof dan ilmuwan islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari semangat ajaran islam, yang menganjurkan para pemeluknya untuk belajar segala hal sebagaimana dapat di pahami dari surat al-Alaq ayat 1-3 : اقرأ بـاسم ربّك الذي خـلق . خلق الانسـان من علق . اقرأ وربّك الأكرم
ِArtinya : Bacalah sengan menyebut nama tuhanmu yang telah menciptakanmu, yang menciptakanmu dari segumpal darah, bacalah dan tuhanmu mulyakanlah.
Dan sebagaimana yang dapat difahami dari hadits nabi Muhammad SAW
Yang diriwayatkan oleh imam Buchori yang berbunyi : أطلب العلم ولو بـالصين Artinya carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina,
Mengenai pertentangan yang terjadi antara kalangan filosof dan kalangan Tasawwuf, mengenai alat yang digunakan untuk mencari kebenaran sejati, yang terus berkembang bahkan sampai saat ini,seharusnya dapat dihindari, bilamana kedua belah pihak menyadari bahwa tuhan telah menganugerahi manusia dengan potensi akal ( baca otak ) dan hati. Kedua potensi itu bisa dimiliki oleh seseorang dalam kadar yang seimbang, namun dapat pula salah satu potensi lebih berkembang dari pada yang lainnya.
Orang yang sangat berkembang potensi akalnya, sangat senang menggunakan akalnya itu untuk memecahkan sesuatu, orang yang demikian ini lebih senang melakukan oleh rasio daripada olah rasa dalam pencarian kebenaran sejati.
Sementara itu orang yang berkembang potensi hati dan kalbunya, sangat senang mengeksplorasi perasaanya untuk memecahkan suatu masalah, orang yang demikian ini lebih senang melakukan olah rasa daripada olah rasio, untuk menemukan kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi seniman atau ahli tasawwuf.
Oleh karena itu seharusnyatidak perlu terjadi pertentangan antara ahli filsafat dan ahli tasawwuf, karena keduanya adalah anugerah tuhan yang seharusnya diterima dengan penuh rasa syukur, seharusnya filosof dan ahli tasawwuf dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling melengkapi diantara keduanya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Thufail dalam Hayy Ibnu Yakdzan, yang telah diuraikan sebelumya.























DAFTAR PUSTAKA

Abdur Rozak, Isep Zainal Arifin, Filsafat Umum ( Bandung: Gema Media, Pusakatama,2002)

Haeruddin, Makalah S3 ITB, Sumbangan peradaban islam terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan ( Bogor;2003 )

Oemar Amin Hoesin, Filsafat islam sejarah dan perkembangannya dalam dunia internasional ( Jakarta: Bulan Bintang,1964).

Sudarsono, Filsafat Islam ( Jakarta: Rineka Cipta,1997).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ok