Kalam Hikmah

Jumat, 01 Juni 2012

Evaluasi Pencapaian hasil Belajar


EVALUASI PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

BAB I

PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang

Evaluasi pencapaian belajar siswa merupakan salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap guru atau pengajar. Dikatakan kewajiban karena setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada lembaga­nya atau kepada siswa itu sendiri. bagaimana dan sampai di mana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa tentang materi dan keterampilan­keterampilan mengenai mata ajaran yang telah diberikannya.

Perlu ditekankan di sini bahwa evaluasi pencapaian belajar siswa tidak ha­nya menyangkut aspek-aspek kognitifnya, tetapi juga mengenai aplikasi atau performance, aspek afektif yang menyangkut sikap serta internalisasi nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dibina melalui mata ajaran atau mata kuliah yang telah diberikannya.

Pada masa-masa yang lalu, dan bahkan hingga kini, masih banyak terdapat kekeliruan pendapat tentang fungsi penilaian pencapaian belajar siswa. Banyak lembaga pendidikan ataupun pengajar - secara sadar atau tidak sadar -- yang menganggap fyngsi penilaian itu semata-mata sebagai mekanisme untuk me­nyeleksi siswa atau mahasiswa dalam kenaikan kelas atau kenaikan tingkat, dan sebagai alat seleksi kelulusan pada akhir tingkat program tertentu.

Adapun fungsi penilaian yang kita hendaki di samping sebagai. alat seleksi dan mengklasifikasi, juga sebagai sarana untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa atau mahasiswa secara maksimal. Dengan kata lain, pe­nilaian pencapaian belajar siswa atau mahasiswa tidak hanya merupakan sua­tu proses untuk mengklasifikasikan.keberhasilan dan kegagalan dalam belajar (penilaian sumatif), tetapi juga - dan ini sangat penting - untuk meningkat­kan efisiensi dan keefektifan pengajaran (penilaian formatif).

Ada dua pandangan yang sangat merugikan keefektifan dan kemurnian fungsi penilaian seperti dimaksud di atas:

1.      Anggapan bahwa untuk melaksanakan penilaian itu tidak perlu adanya per­siapan dan latihan yang eksplisit sehingga siapa saja dapat melakukannya.

2.      Anggapan bahwa penilaian pencapaian belajar siswa atau mahasiswa me­rupakan kegiatan yang lepas, atau setidak-tidaknya merupakan kegiatan "penutup" dari proses kegiatan belajar-mengajar.

Oleh karena itu, khusus dalam bab ini kami ingin mengemukakan beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar oleh setiap guru, dan sehubungan dengan itu pula adanya pemahaman tentang dua pendekatan di dalam menganalisis dan menginterpretasikan hasil tes, yaitu pen­dekatan norm-referenced evaluation dan criterion-referenced evaluation.

Di samping itu, untuk sekadar memberikan bimbingan kepada para guru dan calon guru bagaimana menyusun tes hasil belajar yang baik dalam arti se­suai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan, dalam bab ini juga diuraikan secara singkat langkah-langkah menyusun tes hasil belajar dan cara membuat tabel spesifikasi.

B.     Rumusan Masalah

a.       Apa pengertian Evaluasi?

b.      Bagaimana prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar?

c.       Apa saja macam-macam penilaian?

d.      Bagaimana perencanaan dalam menyusun tes?

e.       bagaimana evaluasi pencapaian hasil belajar siswa?

C.    Tujuan Pembahasan

a.       Agar penyaji dan pembaca dapat mengetahuai pengertian Evaluasi.

b.      Agar penyaji dan pembaca dapat memahami prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar.
c.       Agar penyaji dan pembaca dapat mengetahui macam-macam penilaian.
d.      Agar penyaji dan pembaca dapat mengetahui perecanaan dalam menyusun tes.
e.       Agar penyaji dan pembaca dapat memahami evaluasi pencapaian hasil belajar.
D.    Sitematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A.              Latar Belakang
B.               Permasalahn
C.               Tujuan
D.              Sistematikan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A.              Pengertian Evaluasi
B.               Prinsip-Prinsip Dasar Tes Hasil Belajar
C.               Penilaian Formatif Dan Penilaian Sumatif
D.              Perencanaan Dalam Menyusun Tes
E.               Evaluasi Pencapaian Hasil Belajar.

BAB III PENUTUP
A.              Kesimpulan
B.               Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian evaluasi

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang mengukur dan memberi nilai secara obyektif dan valid, di mana beberapa besar manfaat pelayanan yang telah dicapai berdasarkan tujuan dari obyek yang seharusnya diberikan dan yang nyata apakah hasil-hasil dalam pelaksanaan telah efektif dan efisien.

B.     PRINSIP-PRINSIP DASAR TES HASIL BELAJAR
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan atau keterampilan sis­wa yang diharapkan setelah siswa menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu.
1.                Tes tersebut hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Dalam bab yang lalu telah disinggung bahwa tujuan merupakan landasan dan sekaligus sebagai penentuan kriteria penilaiannya. Jika tujuan tidak jelas, maka penilai­an terhadap hasil belajar pun akan tidak terarah sehingga akhirnya hasil peni­laian tidak mencerminkan isi pengetahuan atau keterampilan siswa yang sebe­narnya. Dengan kata lain, hasil penilaian menjadi tidak valid, yaitu tidak meng­ukur apa yang sebenarnya harus diukur. Oleh karena itu, untuk dapat menyusun tes yang baik, setiap guru harus dapat merumuskan tujuan dengan jelas, ter­utama tujuan instruksional khusus (TIK) sehingga memudahkan baginya un­tuk menyusun soal-soal tes yang relevan untuk mengukur pencapaian tujuan yang telah dirumuskannya.
2.                Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan. Kita telah mengetahui bahwa bahan pelajaran yang telah diajarkan dalam jangka waktu tertentu - baik dalam satu jam pertemuan atau­pun dalam beberapa jam pertemuan - tidak mungkin dapat kita ukuc atau kita nilai keseluruhannya. Atau dengan kata lain, tidak mungkin hasil-hasil be­lajar yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu dapat kita ungkapkan seluruhnya. Oleh karena itu, dalam rangka mengevaluasi hasil belajar siswa, kita hanya dapat mengambil beberapa sampel hasil belajar yang dianggap pen­ting dan dapat "mewakili" seluruh performance yang telah diperoleh selama siswa mengikuti suatu unit pengajaran. Dengan demikian, tes yang kita susun haruslah mencakup soal-soal yang dianggap dapat mewakili seluruh performance hasil belajar siswa, sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan. Makin banyak bahan yang telah diajarkan, makin sulit bagi guru untuk me­nentukan dan memilih soal-soal tes yang benar-benar representatif. Oleh ka­rena itu pula maka dianjurkan agar penilaian dilakukan secara sedapat mung­kin setiap akhir pelajaran atau setiap selesai suatu unit bahan pelajaran tertentu. Di samping itu, untuk dapat menyusun soal-soal tes yang benar-benar me­rupakan sampel yang representatif dalam mengukur hasil belajar siswa, guru hendaknya menyusun terlebih dulu label spesifikasi (blue print atau kisi-kisi) yang memuat rincian topik atau subtopik dari bahan pelajaran yang telah di­ajarkan dan penentuan jumlah serta jenis soal yang disesuaikan dengan tujuan khusus dari setiap topik yang bersangkutan.
3.                Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan. Kita telah mem­pelajari bahwa tujuan pengajaran itu bermacam-macam menurut jenis dan ting­.kat kesukarannya. Hasil belajar dari tiap-tiap topik bahan pelajaran tidak se­lalu sama. Dari Bloom kita mengenal adanya hasil belajar yang berupa penge­tahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor); dan ketiga jenis hasil belajar itu masih dapat dirinci lagi menjadi bermacam-macam ke­mampuan yang perlu dikembangkan di dalam setiap pengajaran. (Pelajari kem­bali Taxonomy of Educational Objectives dari Bloom.)
Untuk dapat mengukur bermacam-macam performance hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang diharapkan, diperlukan kecakapan me­nyusun berbagai macam bentuk soal dan alat evaluasi. Untuk mengukur hasil belajar yang berupa keterampilan, misalnya, tidak tepat kalau hanya meng­gunakan soal yang berbentuk tes essay yang jawabannya hanya menguraikan, dan bukan melakukan atau mempraktekkan sesuatu. Demikian pula untuk mengukur kemampuan menganalisis suatu prinsip, tidak cocok jika digunakan bentuk soal objektif yang hanya menuntut jawaban dengan mengingat atau re­call. Setiap jenis alat evaluasi dan setiap macam bentuk soal hanya cocok un­tuk mengukur suatu jenis kemampuan tertentu. Oleh karena itu, penyusunan suatu tes harus disesuaikan dengan jenis kemampuan hasil belajar yang hen­dak diukur dengan tes tersebut.
4.                Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diingin­kan. Kita mengenal bermacam-macam kegunaan tes sesuai dengan tujuan masing-masing. Khususnya di dalam evaluasi pendidikan yang menyangkut eva­luasi hasil belajar, sedikitnya kita mengenal empat macam kegunaan tes:
a.       tes yang digunakan untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jen­jang atau jenis program pendidikan tertentu (placement test),
b.      tes yang digunakan untuk mencari umpan balik (feedback) guna memper­baiki proses belajar-mengajar bagi guru maupun siswa (test formatif),
c.       tes yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai di mana pen­capaian siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan se­lanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan siswa yang bersangkutan (tes sumatif); dan
d.      tes yang bertujuan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa se­perti latar belakang psikologis, fisik, dan lingkungan sosial-ekonomi siswa (tes diagnostik).

Masing-masing jenis tes tersebut memiliki karakteristik tertentu, baik bentuk soal, tingkat kesukaran, maupun cara pengolahan dan pendekatannya. Oleh karena itu, penyusunan dan penyelenggaraan tes harus disesuaikan dengan tu­juan dan fungsinya sebagai alat evaluasi yang diinginkan.
5.                Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan balk. Suatu alat evaluasi dikatakan andal (reliable) jika alat tersebut dapat meng­hasilkan suatu gambaran (hasil pengukuran) yang benar-benar dapat dipercaya. Suatu tes dapat dikatakan andal (memiliki keandalan yang tinggi) jika tes itu dilakukan berulang-ulang terhadap objek yang sama, hasilnya akan tetap sa­ma atau relatif sama. Perlu dikemukakan di sini bahwa suatu tes yang andal belum tentu valid, akan tetapi, jika tes itu valid, sudah tentu juga andal. Me­ngenai keandalan dan validitas suatu tes akan diuraikan lebih lanjut dalam Bab VII.
6.                Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cars mengajar guru. Pada prinsip nomor 4 tersebut di atas telah diuraikan bahwa salah satu jenis tes adalah tes form at if, yaitu tes yang berfungsi untuk mencari umpan balik atau feedback yang berguna dalam usaha memperbaiki cars mengajar yang di­lakukan oleh guru dan cara belajar siswa. Hal ini dijadikan suatu prinsip da­lam penyusunan tes hasil belajar mengingat bahwa hingga kini masih banyak para guru yang memandang tes hasil belajar itu hanya sebagai alat evaluasi ta­hap akhir dari suatu proses belajar yang dialami siswa selama jangka waktu tertentu sehingga fungsi formatif dari tes hasil belajar selalu diabaikan. De­ngan demikian, sesuai dengan prinsip ini, penyusunan dan penyelenggaraan tes hasil belajar yang dilakukan guru, di samping untuk mengukur sampai di ma­na keberhasilan siswa dalam belajar (evaluasi sumatif), sebaiknya diperguna­kan pula untuk men cari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara be­lajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri (evaluasi formatif).
C.          PENILAIAN FORMATIF DAN PENILAIAN SUMATIF
1. Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk men­cari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut da­pat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Jadi, sebenarnya penilaian formatif itu ti­dak hanya dilakukan pada tiap akhir pelajaran, tetapi bisa juga ketika pe­lajaran sedang berlangsung. Misalnya, ketika guru sedang mengajar, meng­ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mencek atau menda­patkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang diterangkan gu­ru; jika ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti, tindakan guru selanjutnya ialah mengubah atau memperbaiki cara mengajarnya sehing­ga benar-benar dapat dipahami dan diserap oleh siswa. Contoh lain: se­telah pelajaran selesai guru memberi tugas kepada para siswa untuk diker­jakan di luar jam pelajaran/di rumah. Setelah diperiksa, dan ternyata ma­sih banyak siswa yang salah mengerjakan tugas tersebut, maka guru ber­usaha menerangkan kembali pelajaran itu.
Dari contoh-contoh tersebut, jelas bahwa penilaian formatif tidak ha­nya berbentuk tes tertulis dan hanya dilakukan pada setiap akhir pelajaran, tetapi dapat pula berbentuk pertanyaan-pertanyaan lisan atau tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran berlangsung ataupun sesudah pelajaran selesai. Dalam hubungan ini maka pretes dan post-tes yang biasa dilaku­kan dalam sistem pengajaran PPSI termasuk dalam penilaian formatif.
2. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh da­ta atau informasi sampai di mana penguasaan atau pencapaian belajar sis­wa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka wak­tu tertentu. Adapun fungsi dan tujuannya ialah untuk menentukan apa­kah dengan nilai yang diperolehnya itu siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus. Pengerian lulus dan tidak lulus di sini dapat berarti: dapat ti­daknya siswa melanjutkan ke modul berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester berikutnya; dapat tidaknya se­orang siswa dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi; dapat tidaknya seorang siswa dinyatakan lulus/tamat dari sekolah yang bersangkutan; atau dapat tidaknya seorang siswa diterima di sekolah yang lebih tinggi.
Dari apa yang telah dikemukakan, jelas kiranya bahwa penilaian su­matif tidak hanya merupakan penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir caturwulan atau setiap akhir Semester, tetapi juga dilaksanakan mi­salnya pada setiap akhir modul (bagi pengajaran yang menggunakan sis­tem modul), setiap akhir tahun ajaran, Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EB­TA atau Ebtanas), dan ujian masuk Perguruan Tinggi yang terkenal de­ngan sebutan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Bahkan penilaian sumatif termasuk pula penilaian yang dilakukan guru atau do­sen pada tahap-tahap tertentu selama caturwulan atau semester. Penilaian ini biasa disebut tes subsumatif atau tes unit, dengan maksud untuk mem­bedakannya dengan tes surnatif yang dilakukan pada setiap akhir catur­wulan atau akhir Semester. Nilai hasil tes subsumatif dan tes sumatif ini­lah yang boleh diperhitungkan untuk menentukan nilai rapor atau ijazah atau kartu hasil studi mahasiswa.

D.    PERENCANAAN DALAM MENYUSUN TES (Langkah-langkah Menyusun Tes)
Dalam merencanakan penyusunan achievement test diperlukan adanya langkah­langkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Para ahli penyusun tes maupun para pengajar (classroom teachers) umumnya telah menyepakati langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menentukan/merumuskan tujuan tes.
2.      Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan diukur dengan tes itu.
3.      Menentukan/menandai hasil-hasil belajar yang spesifik, yang merupakan tingkah laku yang dapat diamati dan sesuai dengan TIK.
4.      Merinci mata pelajaran/bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
5.      Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
6.      Menggunakan tabel spesifikasi tersebut 'sebagai dasar penyusunan tes.

CIRI-CIRI DARI EMPAT TIPE ACHIEVEMENT TESTS

TIPS TES
FUNGSI TES
KONSIDERASI SAMPEL
CIRI-CIRI
PLACEMENT
-  Mengukur prerekuislt entry skills

-  Menentukan entry formance tentang tujuan pelajaran
-Mencakup tiap- tiap prerekulslt entry behavior
-Memilih sampel yang mewakill tujuan pelajaran
-  Items mudah dan crite­rion-referenced

-  Items memitiki range kesukaran yang lugs dan norm-referenced
FORMATIF
Sebagai balikan bagi
siswa + guru tentang
kemajuan belajar
Jika mungkin, mencakupsemua unit tujuan
(yang esensial)
Items memadukan ke­
sukaran unit tujuan
dan criterion-referenced.
DIAGNOSTIK
Menentukan kesulitan
belajar yang sating
muncul
Mencakup sampel tugas-
tugas yang berdasarkan
sumber-sumber kesalah-
an belajar yang umum
Items mudah dan dl­
gunakan untuk menunjuk
sebab-sebab kesalahan
yang spesifik
SUMATIF
Menentukan kenaikan
tingkatlkelas atau
kelulusan pada akhir
program pengajaran
Memilih sampel tujuan-
tujuan pelajaran yang
representatif
Items memitiki range ke­sukaran yang lugs dan
norm-referenced


E.     EVALUASI PENCAPAIAN HASIL BELAJAR
Evaluasi pencapaian hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes, agar dapat mengukur tingkat keberhasilan peserta didik dalam menerima, memahami dan melaksanakan apa yang di ajarkan


BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang mengukur dan memberi nilai secara obyektif dan valid, di mana beberapa besar manfaat pelayanan yang telah dicapai berdasarkan tujuan dari obyek yang seharusnya diberikan dan yang nyata apakah hasil-hasil dalam pelaksanaan telah efektif dan efisien.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara penilaian for­matif dan penilaian surnatif bukan terletak pada kapan/waktu tes itu dilaksana­kan, tetapi terutama pada fungsi dan tujuan tes/penilaian itu dilaksanakan. Jika penilaian atau tes itu berfungsi dan bertujuan untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian formatif. Tetapi jika penilaian itu berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai di mana prestasi atau pe­nguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukkan bagi penentuan lulus tidaknya seorang siswa, maka penilaian itu disebut penilaian sumatif.
Prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar yaitu, Mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai tujuan instruksional, Mengukur sampel yang representatif dai hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan,  Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar, Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memeroleh hasil yang diinginkan, Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik, dan Digunakan untuk memperbaiki cara belajar dan mengajar.
Untuk dapat merumuskan tujuan penyusunan tes dengan baik, seorang guru atau pengajar perlu memikirkan apa tipe dan fungsi tes yang akan disusunnya sehingga selanjutnya is dapat menentukan bagaimana karakteristik soal-soal yang akan dibuatnya. Perlu diketahui bahwa tes itu mempunyai beberapa fungsi, bergantung pada tipe atau kegunaannya. Diagram berikut ini menunjukkan apa tipe dan fungsi tes serta bagaimana ciri-ciri soal-soalnya.
Evaluasi pencapaian hasil belajar siswa terwujud dengan memberikan tes kepada peserta didik agar dapat mengetahui hasil perkembangan belajar siswa dari segi kognitif, afektif, dan pesikomotorik peserta didik.

  1. Saran
Setelah membaca tulisan bacaan diatas diharapkan pembaca dapat mengetahui dan memahami pengertian evaluasi pencapaian hasil belajar siswa sehingga bisa mengaplikasikan dengan baik dalam dunia pendidikan. Semoga tulisan ini bermanfaat..Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ok