Kalam Hikmah

Minggu, 29 Juli 2012

Ramadhan Bulan Pendidikan serta tarbiyyah


Ramadhan Bulan Pendidikan

Bulan Ramadhan bulan mulia didalamnya ada Lailatul qodar (Malam seribu bulan) dibulan ini Allah SWT. memberikan fasilitas menggiurkan untuk hambanya, dengan terbukanya pintu-pintu surga bagi siapa saja yang datang dengan Iman dan Amal, baik Puasa, Sholat malam, Tadarrus, Infaq, Sedekah, atau Ibadah lainnya, serta tertutupnya pintu neraka bagi siapa yang menjauhi dosa-dosa.
Bulan Ramadhan adalah bulan Tarbiyyah (bulan pendidikan). Pada bulan ini, Malaikat Jibril memberikan pendidikan pertama kepada Rasulullah untuk melakukan aktivitas membaca. Termaktub dalam surat yang pertama turun, Al-Alaq ayat 1 - 4.
إقـراء باسم ربّك الذي خـلق o خلق الإنســان من عــلق o إقـراء وربّك الأكـــرم o الّـذي عــلّم بالقـلم
Artinya : “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang telah menciptakan kamu dari segumpal darah, bacalah dan tuhanmu yang maha pemurah, yang telah mengajarkan kepadamu melalui perantara Pena”.
Secara tersirat makna membaca yang dimaksud adalah perintah untuk mempelajari, menelaah, meneliti, berpikir (tafakur), mencari bukti-bukti, mencocokkan teori, mempelajari seluruh objek yang ada di hadapan kita. Objeknya bisa diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam semesta.
Sehingga membaca dalam pengertian ini (belajar) menjadi wajib hukumnya bagi setiap kaum Muslimin, sama wajibnya dengan ibadah mahdoh lainnya. Spirit membaca yang dilakukan tidak boleh lepas dari kerangka Bi-ismi-Rabika (Dengan nama Tuhanmu) sehingga hasil membaca itu ada pada jalur ridha Allah SWT.
Jika Ramadhan adalah bulan pendidikan. Kenapa kita tak memanfaatkannya untuk merubah diri kita menjadi lebih baik dan kembali fitri?. Berusaha dengan sepenuh hati mengisi hari-hari di bulan yang istimewa ini dengan sesuatu yang bermakna hakiki, agar bisa mendapat Rahmat dari Ilahi Robbi.
DR. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya ‘Ramadhan wa Bina’ul Ummah’ mengatakan, ada beberapa sisi pendidikan dalam puasa Ramadhan.
Pertama, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah-perintah Allah SWT secara totalitas. Karenanya, tidak pantas seorang muslim jika selesai Ramadhan ketika mendengar salah satu hukum Allah SWT, atau mengetahui salah satu hukum Rasulullah SAW, ia memperdebatkannya. Allah SWT mencintai hamba-hambaNya yang tunduk kepada-Nya tanpa membantah dan menaati-Nya tanpa ada keraguan. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36).
Kedua, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya. Ketika Ramadhan kaum muslimin dilarang melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal bila dilakukan pada siang hari di selain Ramadhan. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Karenanya, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Ramadhan, maka ia akan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. Puasa, pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan setan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya.
Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai para pemuda barangsiapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa mengendalikan syahwat.”
Ketiga, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, ”Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ’Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).
Keempat, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk senang berinfaq. Ramadhan mampu membentuk jiwa orang yang berpuasa menjadi dermawan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, ”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril selalu menemuinya setiap malam bulan Ramadhan, lalu memantau bacaan Al-Qur’an beliau. Pada saat ditemui Jibril, Rasulullah lebih dermawan dengan penuh kebaikan (lebih cepat) daripada angin yang ditiupkan.” (HR. Bukhari Muslim).
Kelima, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Ramadhan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa.
Keenam, Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslimin merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadhan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, ”Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin”. Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka.
Ketujuh, Ramadhan mendidik ketaqwaan dalam hati kaum muslimin. Sebab, tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya.
Setelah sebulan penuh dididik Ramadhan, ilmu pun didapat, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya di sebelas bulan berikutnya. Islam menginginkan orang yang berilmu mengamalkan ilmunya demi kebaikan diri dan orang lain. Ilmu pada seseorang ibarat sebatang pohon dan amal sebagai buahnya. Perintah belajar dan menuntut ilmu bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal muslim. Dengan amal itu pula, muslim memperoleh kebahagiaan di dunia dan selamat di akhirat.
Karenanya, hakikat dari belajar atau menuntut ilmu adalah perubahan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan setelah mengetahui kemudian mengamalkannya. Sedangkan manusia yang tidak mampu lagi berubah (setelah belajar/menuntut ilmu) sejatinya ia telah mati. Oleh karena itu, jadilah manusia pembelajar, karena dengan belajar berarti akan ada perubahan, perubahan adalah keniscayaan, karena orang yang cerdas adalah orang yang jeli untuk mengetahui dan mengakui kelemahan dirinya. Dari kesadaran tersebut, ia perbaiki dirinya agar selanjutnya ia dapat melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Wallahu A’lam




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ok