Advertisement

Tarekat dalam Islam

MAKALAH PENGERTIAN TAREKAT

KATA PENGANTAR

Sobat saef, Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENGERTIAN TAREKAT”.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami menyampaikan terimakasih atas bimbingan dan petunjuk yang sudah diberikan, khususnya kepada Bapak H. M. Saifullah, Lc, M. Pd. selaku dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf dan juga semua pihak atau teman-teman yang telah membantu memberikan referensi dan masukan sehingga makalah ini dapat tersusun.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat dan memberikan inspirasi terhadap pembaca. Kami menyadari banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun, demi pembuatan makalah yang lebih baik.

Gresik, 20 April 2026

Penyusun


Daftar Isi

Daftar Isi 3

BAB I        1

PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 1

1.3 Tujuan 2

1.4    Manfaat 2

BAB II 3

PEMBAHASAN 3

2.1 Pengertian Tarekat 3

2.2 Hubungan Tarekat dengan Tasawuf 6

2.1 Tujuan dan Manfaat Melakukan Tarekat 3

BAB III 10

PENUTUP 10

1.1 Kesimpulan 10

1.2 Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 11


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tasawuf berasal dari kata sufisme. Oleh para orientalis Barat disebut dengan sufism (sufisme). Kata sufisme dalam literatur Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam (Islamic mysticism).4 Secara etimologi, kata tasawuf berasal dan bahasa Arab, yaitu tashawwafa, yatashawwafu, tashawwufan. Ulama berbeda pendapat dari mana asal-usulnya. Tasawuf merupakan salah satu aspek paling penting dalam Islam sekaligus perwujudan dari ihsan yang menyadari akan adanya komunikasi antara hamba dan Tuhan- nya. Tasawuf merupakan jantung bagi pelaksanaan ajaran-ajaran Islam dan kunci kesempurnaan amaliah, di samping hal lain yang juga sama pentingnya, yaitu akidah dan syariat. Tasawuf sendiri merupakan inti ajaran yang dipraktekkan dalam kalangan kaum tarekat.

Ajaran tarekat adalah salah satu pokok ajaran yang ada di dalam tasawuf. Ilmu tarekat sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan ilmu tasawuf dan tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan orang-orang sufi. Orang sufi adalah orang yang menerapkan ajaran tasawuf. Dan tarekat itu sendiri adalah tingkatan ajaran pokok dari tasawuf itu. Salah satu cara yang ditempuh oleh para ulama praktisi tasawuf dalam mensucikan hati dan jiwa untuk dapat mndekatkan diri kepada Allah SWT adalah cara menempuh dan masuk dalam dunia tarekat. 

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yakni sebagai berikut.

Apa Pengertian Tarekat?

Bagaimana Hubungan Tarekat dengan Tasawuf?

Apa Tujuan dan Manfaat Melakukan Tarekat?

Tujuan

Adapun tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

Menjelaskan pengertian literasi digital.

Mendeskripsikan peran dan kompetensi pendidik serta peserta didik dalam literasi digital.

Menjelaskan strategi pengembangan literasi digital dalam pembelajaran.

1.4      Manfaat

Sebagai suatu karya ilmiah maka makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 

Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan pemahaman mengenai literasi digital dalam pendidikan.

Bagi pembaca, dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang pentingnya literasi digital serta penerapannya dalam pembelajaran.

Bagi dunia pendidikan, dapat menjadi referensi dalam mengembangkan literasi digital bagi pendidik dan peserta didik.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tarekat

Dari segi bahasa, tarekat berasal dari kata Arab ṭarīqah (الطريقة) yang berarti jalan, cara, metode, atau petunjuk yang ditempuh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Jamil Shaliba mengatakan bahwa secara harfiah, tarekat merupakan jalan yang terang, dan lurus yang memungkinkan sampai pada tujuan dengan selamat. Dalam istilah tasawuf, tarekat merupakan jalan spiritual yang dilalui seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui bimbingan seorang guru atau mursyid dengan melaksanakan amalan-amalan tertentu seperti zikir, wirid, mujahadah, dan latihan pengendalian diri. Tarekat tidak hanya dipahami sebagai kelompok keagamaan, tetapi juga sebagai metode pendidikan rohani yang bertujuan membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Dalam praktiknya, tarekat menjadi sarana pembinaan spiritual yang menghubungkan syariat, hakikat, dan makrifat sehingga seseorang mampu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Pengertian tarekat berbeda-beda menurut tinjauan masing-masing. Tarekat adalah jalan yang sifatnya spiritual bagi seorang sufi yang didalamnya berisi amalan ibadah dan lainnya yang menyebut nama Allah dan sifat-sifatnya yang disertai penghayatan mendalam.

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa tarekat merupakan tahap lanjutan setelah seseorang memahami syariat Islam. Melalui tarekat, seseorang dibimbing untuk mengamalkan ajaran Islam secara lebih mendalam sehingga tidak hanya beribadah secara lahiriah, tetapi juga memiliki kesadaran batin yang kuat dalam setiap perbuatannya. Para sufi menjalankan tarekat itu bersifat individu, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan antara satu sufi dengan sufi lainnya, sehingga pada prakteknya muncul tata cara dan atau aturan yang berlainan pula. Lebih jauh muncullah tarekat-tarekat dengan nama yang bermacam-macam. Dapat disimpulkan bahwa tarekat merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah yang diterapkan lewat dzikir yang banya kepada-Nya. Namun, tarekat merupakan pengalaman pribadi sehingga penerapan tersebut terkadang berbeda antara satu dengan yang lain. Meskipun memiliki metode zikir yang berbeda-beda, seluruh aliran ini tetap menuju pada satu tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun macam-macam tarekat tersebut meliputi:

Tarekat Naqsyabandiyah

Tarekat Naqsyabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi al-Uwaisi al-Bukhari (w.1389M) di Turkistan.Tarekat ini merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim (meskipun sedikit di antara orang-orang Arab) serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari'at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen.

Tarekat Syattariyah

Tarekat Syatariyah, nama Syatariyah dinisbahkan kepada Syaikh Abd Allah al-Syaththari (w.890 H/1485 M), seorang ulama yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syihab al-Din Abu Hafsh, Umar Suhrawardi (539-632 H/1145-1234 M), ulama yang mempopulerkan Tarekat Suhrawardiyah. Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoxiana (Asia Tengah) dengan nama Insyiqiah sedangkan di wilayah Turki Usmani tarekat ini disebut Bistamiyah. Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid Al-Isyqi yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syatariyah tidak menganggap sebagai cabang dari persatuan sufi manapun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktek. Sepeninggal Abdullah Asy-Syatar, Tarekat Syatariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad Al-A‟la, yang dikenal sebagai Qazan Syatiri. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghauts dari Gwalior (w. 1562), keturunan keempat dari sang pendiri dari seorang pendiri. sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling “mempribumi” di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Tarekat Qodiriyah

Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi (1077-1166M). Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia.Syekh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi, ini adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat. Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes, yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya.Tarekat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarekatnya ialah zikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan. Ada anggapan membaca Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun Sumatera. Adapun asas-asas dalam tarekat Qodiriyah ialah bercita-cita tinggi, melaksanakan cita-cita, membesarkan nikmat, memelihara kehormatan dan memperbaiki khidmat kepada Allah SWT. Sedangkan wirid dan zikir yang dilafalkan ialah “Lailahaillallahu” dengan berdiri sambil bersenam, mengepalkan tangan ke samping, ke depan, ke muka dengan badan yang sigap, dan putus ingatan dengan yang lain, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Tarekat Rifaiyah

Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali Abul Abas (wafat 578 H/1183 M). Syaikh Ahmad yang konon guru Syaikh Abdul Qadir jailani, begitu asyik berdzikir hingga tubuhnya terangkat keatas angkasa. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari-bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada. Tapi syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa, begitu khusuknya, sehingga ia tidak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal seluruh dunia mendengar suara rebana itu. Terakat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal-hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifaiyah, yang memang merinci tarekatnya dengan rebana, di Acah dulu pernah berkembang besar dan disebut Rapa'i sudah sulit mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran.

2.2 Hubungan Tarekat dengan Tasawuf

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Dari definisi tentang tasawuf di atas diperhatikan dan dipahami secara utuh, maka akan tampak selain berorientasi spiritual, tasawuf juga berorientasi moral. Dan dapat disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian hati dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirnya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Allah. Sedangkan tarekat adalah Suatu jalan yang ditempuh, dipilih, atau dilalui oleh seoarang Sufi untik menjadikan diri lebih dekat dengan Allah berdasarkan apa yang telah Rasulullah ajarkan. Hubungan antara tasawuf dan tarekat sangat erat dan tidak dapat dipisahkan, di mana tasawuf adalah konsep teoritisnya (ilmu/tujuan), sedangkan tarekat adalah metode praktisnya (jalan/cara) untuk mencapai tujuan tersebut. Pemahaman secara sederhana adalah seperti tasawuf adalah kurikulum yang digunakan dalam pendidikan, sedangkan tarekat merupakan praktek secara nyata dari kurikulum yang sudah ditetapkan.

 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah.

2.3 Tujuan dan Manfaat Melakukan Tarekat

Dalam Tarekat, tentunya terdapat tujuan dan juga manfaat yang akan diperoleh ketika melakukannya, diantaranya adalah:

Tujuan Melakukan Tarekat

Tarekat merupakan jalan spiritual yang ditempuh seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan yang diajarkan oleh seorang mursyid. Tujuan utama tarekat adalah mencapai keridaan Allah SWT dengan membersihkan hati dan jiwa dari berbagai penyakit batin seperti riya', takabur, hasad, ujub, dan cinta dunia yang berlebihan. Dalam ajaran tasawuf, pembersihan jiwa ini dikenal sebagai tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian diri agar hati menjadi lebih bersih dan mudah menerima petunjuk Allah SWT.

Selain itu, tarekat bertujuan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang melalui pelaksanaan zikir, wirid, serta ibadah yang dilakukan secara istiqamah. Dengan menjalankan amalan-amalan tarekat, seorang muslim tidak hanya menjalankan syariat secara lahiriah, tetapi juga menghayati makna ibadah secara batiniah sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT. Tarekat juga bertujuan membentuk akhlak yang mulia, seperti sifat sabar, tawadhu' (rendah hati), ikhlas, jujur, dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Melalui pembinaan spiritual yang berkelanjutan, seorang pengikut tarekat diharapkan mampu mengendalikan hawa nafsunya dan menjadikan kehidupannya lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Manfaat Melakukan Tarekat

Melakukan tarekat memberikan berbagai manfaat yang dapat dirasakan baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Dari segi spiritual, tarekat membantu seseorang memperoleh ketenangan jiwa dan ketenteraman hati karena ia senantiasa mengingat Allah SWT melalui zikir dan amalan-amalan lainnya. Hati yang selalu dekat dengan Allah akan lebih mudah menghadapi berbagai ujian hidup dengan sikap sabar, tawakal, dan penuh rasa syukur. Selain itu, tarekat juga dapat meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah sehingga ibadah yang dilakukan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan spiritual seseorang.

Dari segi moral, tarekat berperan penting dalam membentuk kepribadian yang berakhlak mulia. Seorang pengikut tarekat dibiasakan untuk bersikap jujur, disiplin, rendah hati, menghormati orang lain, dan menjauhi perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Manfaat lainnya adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan emosi sehingga seseorang lebih mampu menjaga perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sosial, tarekat juga dapat mempererat hubungan persaudaraan antarsesama muslim karena para pengikutnya diajarkan untuk saling membantu, menghormati, dan menebarkan kasih sayang. Oleh karena itu, tarekat tidak hanya bermanfaat bagi pembinaan spiritual individu, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, religius, dan berakhlak baik.

BAB III

PENUTUP

3. 1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa Tarekat merupakan jalan spiritual yang ditempuh seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan seperti zikir, wirid, mujahadah, dan latihan pengendalian diri dengan bimbingan seorang mursyid. Tarekat tidak hanya dipahami sebagai kelompok keagamaan, tetapi juga sebagai metode pendidikan rohani yang bertujuan membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela serta menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Dalam perkembangannya, terdapat berbagai macam tarekat seperti Tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Qodiriyah, dan Rifaiyah yang memiliki metode dan ciri khas masing-masing, namun tetap memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hubungan antara tasawuf dan tarekat sangat erat, di mana tasawuf menjadi konsep atau tujuan dalam usaha penyucian jiwa, sedangkan tarekat menjadi jalan atau metode praktis yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Melalui pelaksanaan tarekat, seseorang diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, membentuk akhlak yang baik, mengendalikan hawa nafsu, serta memperoleh ketenangan jiwa. Dengan demikian, tarekat memiliki manfaat tidak hanya bagi kehidupan spiritual individu, tetapi juga dalam kehidupan sosial melalui pembentukan pribadi yang lebih sabar, rendah hati, disiplin, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

3. 2 Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mohon kritik dan saran guna perbaikan untuk masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Aulia. (2020). Laporan Mingguan Akhlak Tasawuf Aulia Minggu Ke-14. Scribd. https://id.scribd.com/document/487353738/Laporan-Mingguan-Akhlak-Tasawuf-Aulia-Minggu-Ke-14.

Maulaty, R. N. (2016). Hubungan tarekat dan tasawuf. Scribd. https://id.scribd.com/document/333973675/Korelasi-Tarekat-Dan-Tasawuf.

Nurhayani, R. (2024). Analisis hubungan tarekat dan tasawuf. Academia.edu. https://www.academia.edu/121259282/Analisis_Hubungan_Tarekat_dan_Tasawuf.

Rahmawati. (2014). Tarekat dan perkembangannya. Jurnal Al-Munzir, 7(1), 87–89.

Riyadi, A. (2014). Tarekat sebagai organisasi tasawuf (Melacak peran tarekat dalam perkembangan dakwah Islamiyah). Jurnal At-Taqaddum, 2(2), 359–385.

Syukur, A. (2012). Tasawuf sosial. Pustaka Pelajar.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Advertisement

Advertisement