Diam tidak berarti emas jika
KEZALIMAN AKAN TERUS ADA BUKAN KARENA BANYAKNYA ORANG JAHAT, MELAINKAN KARENA DIAMNYA ORANG BAIK
Sobat Saef, Kalau harta itu baik, ia pasti akan mendekatkan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Kalau kerja kita baik, ia pasti akan mendekatkan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Kalau kawan kita baik, dia pasti akan membuat kita ingat pada Allah Azza wa Jalla. Segala kebaikan akan kembali kepada sumber kebaikan yaitu Allah Azza wa Jalla.
Apa saja yang membuatkan kita jauh daripada Allah Azza wa Jalla, maka waspadalah. Lebih baik hilang sesuatu karena Allah Azza wa Jalla daripada kehilangan Allah wa Jalla karena sesuatu.
Ali Bin Abi Thalib berkata, "kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang baik."
(Faraidul Kalam li Khulafail Kiram, Qashim Ashar, hlm. 34)
Kezaliman akan terus ada ketika kita berdiam diri membiarkannya terjadi. Sepatutnya kita bersungguh-sungguh dalam melakukan perlawanan terhadap kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut: 69)
Bersungguh-sungguh dalam menentang dan melawan kezaliman merupakan salah satu sikap yang sangat dianjurkan di dalam Islam. Bersungguh-sungguh diartikan sebagai sebuah usaha dengan sekuat-kuatnya, dengan segenap hati, dengan sepenuh minat untuk mengejar sesuatu yang diinginkannya.
Bersungguh-sungguh begitu penting dalam nafas kehidupan manusia. Di dalam Islam, bersungguh-sungguh memiliki poin tersendiri. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ
“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad.” (QS. Al-Hajj: 78)
Perintah Allah Azza wa Jalla tidak mungkin dapat terlaksana tanpa kesungguhan dan tekad kuat. Hal itu karena rintangan dan gangguan akan selalu mengiringi langkah setiap Muslim dalam rangka berusaha untuk mencapai keridhaan Allah Azza wa Jalla.
Ketika gangguan itu mampu menyingkirkan kesungguhan dalam diri seorang Muslim, maka hal itu bisa membuatnya menjadi seorang yang lemah, menjadi seorang yang takut dan tidak memiliki keberanian untuk merubah keadaan yang akhirnya jauh dari rahmat dan ridha Allah Azza wa Jalla.
Kesungguhan yang telah melekat di dalam jiwa-jiwa setiap Muslim akan menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi segala bentuk ujian yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada setiap hamba-Nya...
Karena dengan kesungguhan, seseorang akan memiliki sikap teguh pendirian, tidak mudah goyah dengan kebaikan yang dilakukannya. Kesungguhan meraih ridha-Nya menjadikannya tidak pernah takut pada apapun dan siapapun kecuali hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika keteguhan dalam menjalan kebaikan telah tertanam di dalam hatinya, ia akan menjadi seorang Mukmin yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah dan janganlah bersikap lemah.” (Hr. Muslim)
Kecintaan Allah Azza wa Jalla kepada hamba-Nya akan membuahkan kesejahteraan dan kedamaian hidup. Kesejahteraan dan kedamaian hidup itu berupa _subulussalam_ (jalan keselamatan) yang Allah Azza wa Jalla tunjukkan kepada setiap hamba-Nya yang benar-benar mencari dan menggapainya.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersungguh-sungguh menentang dan melawan kezaliman untuk meraih ridha-Nya.
