Advertisement

Kamu belum merdeka

ARTI HAKIKI DARI KEMERDEKAAN


Sobat Saef, Islam hadir sejatinya untuk memerdekakan manusia dari menghamba kepada sesama makhluk, kepada Rabb-Nya makhluk.

“Merdeka!” teriak kita setiap kali menyambut dirgahayu hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi, pernahkan sejenak kita merenungkan arti hakiki dari kemerdekaan itu sendiri? Sudahkah kita benar-benar merdeka?

Teringat sejarah, ketika pasukan Muslimin hendak menaklukkan kerajaan Persia. Rib’i bin Amir pergi mendatangi undangan Rustum dengan menggunakan baju yang sangat sederhana, sarung pedang dari balutan baju dan kuda yang kecil seolah memberi pesan kepada bangsa Persia bahwa harta yang kalian agung-agungkan tidak ada nilainya di sisi kami. Saat tiba di pelataran tenda Rustum , Rib’i bin Amir disuruh turun dari kudanya, bukannya turun, beliau malah terus menunggangi kudanya dan menginjak permadani yang telah dihamparkan. Saat sudah berada di hadapan Rustum beliau mengikatkan tali kudanya ke bantal yang ada di sana.

Apa yang dilakukan Rib’i bin Amir ini bukanlah tanpa sebab. Beliau melakukan hal itu dalam rangka meruntuhkan mental pasukan Persia yang begitu mengagungkan harta. Rustum bertanya kepada Rib’i bin Amir, risalah apa yang kalian bawa?

الله ابتعثنا، والله جاء بنا، لنخرج من شاء من عبادة العباد، إلى عبادة الله، ومن ضيق الدنيا إلى سعتها، ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام

Rib’i menjawab, Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadap sesama hamba menuju penghambaan kepada Sang Pencipta. Membawa manusia dari sempitnya dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat

Apa yang dilakukan oleh Rib’i bin Amir terhadap bangsa Persia mencerminkan kemerdekaan jiwa yang dimiliki oleh seorang Muslim. Dia tidak merasa rendah di hadapan para pemuja harta, dia tidak merasa hina berhadapan dengan para penguasa, karena dia memiliki jiwa yang merdeka, dimerdekakan oleh ketauhidan.

Penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla atau _al-‘ubudiyyah_ adalah kedudukan manusia yang paling tinggi di sisi Allah Azza wa Jalla. Karena dalam kedudukan ini, seorang manusia benar-benar menempatkan dirinya sebagai hamba Allah Azza wa Jalla yang penuh dengan kekurangan, kelemahan dan ketergantungan kepada Rabb-nya, serta menempatkan dan mengagungkan Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb yang Maha Sempurna, Maha Kaya, Maha Tinggi dan Maha Perkasa.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kesempurnaan makhluk manusia adalah dengan merealisasikan al-‘ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Allah, dan semakin bertambah kuat realisasi penghambaan diri seorang hamba kepada Allah, maka semakin bertambah pula kemerdekaannya, kesempurnaannya kemuliaannya dan semakin tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan barangsiapa yang menyangka (dengan keliru) bahwa seorang hamba bisa saja keluar dari penghambaan diri kepada Allah (tidak terkena kewajiban beribadah kepada Allah) dalam satu sisi, atau (dia menyangka) bahwa keluar dari penghambaan diri itu lebih sempurna (utama), maka dia termasuk orang yang paling bodoh bahkan paling sesat.”

(Kitab _Al-‘Ubuudiyyah_ hlm. 57 - Tahqiiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, cet. Darul Ashaalah)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menyempurnakan penghambaan diri dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya. 

Jangan lupa untuk selalu terhubung dengan mengikuti website kami Gudangarab

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Advertisement

Advertisement