Hati hati dengan Hati
NILAI AMALAN DZAHIR BERGANTUNG AMALAN HATI
Sobat Saef, Secara umum, takdir diartikan sebagai putusan Allah Azza wa Jalla yang berlaku bagi seluruh mahluk-Nya, termasuk manusia. Berlakunya takdir atas dasar keyakinan akan adanya kekuasaan dan kehendak mutlak Sang Pencipta serta status manusia sebagai makhluk.
Sebenarnya, walaupun setiap manusia telah ditentukan takdirnya, bukan berarti manusia hanya tinggal diam menunggu tanpa ada usaha dan ikhtiar. Berhasil atau tidak upaya yang dilakukan, biarkan takdir yang berjalan, "al-insan bi at-takhyir wa Allah bi at-takdir."
Salah satu rukun iman yang wajib kita imani dan yakini adalah beriman kepada takdir Allah Azza wa Jalla, baik takdir baik maupun takdir buruk. Kita wajib percaya dan beriman bahwa semua takdir baik dan buruk berasal dari Allah Azza wa Jalla, dan kita harus lapang hati dan ridha menerima semua takdir-Nya.
Namun terkadang kita tidak bisa menerima takdir Allah Azza wa Jalla dengan hati yang ridha dan lapang. Kita sering mengeluh terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, bahkan terkadang terhadap takdir baik-Nya. Karena itu, agar hati selalu ridha menerima takdir Allah Azza wa Jalla, maka hendaknya kita memperbanyak membaca doa;
اَللَّهُمَّ رَضِّنِيْ بِقَضَائِكَ وَصَبِّرْنِيْ عَلَى بَلاَئِكَ وَاَوْزِعْنِيْ شُكْرَ نِعَمَائِكَ
"Ya Allah, jadikan aku ridha dalam menerima qadha (ketentuan)-Mu, dan jadikan aku sabar dalam menerima bala dari-Mu, dan tunjukilah aku untuk mensyukuri semua nikmat-nikmat-Mu."
(Kitab Syarh Al-Hikam oleh Ibnu Ibad Al-Nafazi)
Besar kecilnya nilai amalan dzahir bergantung dengan amalan hati. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela para sahabatku, kalau seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai infaq mereka kurma atau gandum sebanyak dua genggam tangan atau segenggam tangan.” (HR. Al-Bukhari no 3673 dan Muslim no. 221)
Perhatikanlah bahwasanya gunung Uhud panjangnya sekitar 7 km dan lebarnya 2 sampai 3 km, dengan ketinggian sekitar 350 meter? Tentunya kalau ada emas seukuran ini maka beratnya ribuan ton. Kalau kita memiliki emas sebesar itu, apakah kita akan menginfakkannya?
Lantas kenapa para sahabat mendapat kemuliaan yang luar biasa ini, mengapa ganjaran amalan mereka sangat besar di sisi Allah Azza wa Jalla? Al-Baydhaawi berkata :
مَعْنَى الْحَديْثِ لاَ يَنَالُ أَحَدُكُمْ بِإنْفَاق مِثْلِ أُحُدٍ ذَهَبًا منَ الْفَضْلِ وَالأَجْرِ مَا يَنَالُ أَحَدُهُمْ بِإِنْفَاق مُدِّ طَعَامٍ أَوْ نَصِيْفِهِ وَسَبَبُ التَّفَاوُت مَا يُقَارِنُ الأَفْضَلَ منْ مَزِيْدِ الإِخْلاَصِ وَصِدْقِ النِّيَّةِ
“Makna hadits ini adalah salah seorang dari kalian meskipun menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai meraih pahala dan karunia sebagaimana yang diraih oleh salah seorang dari mereka (para sahabat) meskipun hanya menginfakkan satu mud makanan atau setengah mud. Sebab perbedaan tersebut adalah karena mereka yang lebih utama yaitu para sahabat disertai dengan keikhlasan yang lebih dan niat yang benar.”
(dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 7/34)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ
“Sesungguhnya amalan-amalan berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu shaf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi.”
(Minhaajus Sunnah 6/136-137)
Beliau juga berkata,
أَنَّ الْأَعْمَالَ الظَّاهِرَةَ يَعْظُمُ قَدْرُهَا وَيَصْغُرُ قَدْرُهَا بمَا في الْقُلُوْبِ، وَمَا فِي الْقُلُوْبِ يَتَفَاضَلُ لاَ يَعْرِفُ مَقَادِيْرَ مَا فِي الْقُلُوْبِ مِنَ الْإِيْمَانِ إِلاَّ اللهُ
“Sesungguhnya amalan-amalan lahiriah (dzahir) nilainya menjadi besar atau menjadi kecil sesuai dengan apa yang ada di hati, dan apa yang ada di hati bertingkat-tingkat. Tidak ada yang tahu tingkatan-tingkatan keimanan dalam hati-hati manusia kecuali Allah.” (Minhaajus Sunnah 6/137)
Dari sini jelas bagi kita rahasia kenapa Allah Azza wa Jalla menjadikan pahala sedikit infaq yang dikeluarkan oleh para sahabat lebih tinggi nilainya dari beribu-ribu ton emas yang kita sedekahkan. Sesungguhnya amalan-amalan hati para sahabat sangatlah tinggi, keimanan para sahabat sangatlah jauh dibandingkan keimanan kita.
Mungkin kita bisa saja menilai amalan dzhahir seseorang, akan tetapi amalan hatinya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla. Para sahabat yang luar biasa amalan dzahirnya bisa saja ada seorang tabi'in yang meniru mereka akan tetapi yang menjadikan mereka tetap istimewa adalah amalan hati mereka yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah Azza wa Jalla.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senatiasa mengimani takdir dan menjaga amalan hati untuk meraih ridha-Nya.
