Kalam Hikmah

Minggu, 22 Desember 2013

Benarkah Harga Hidayah itu mahal.....?


MAHALNYA HARGA HIDAYAH

إنّك لن تهدي من أحببت ولكنّ الله يهدي من يشاء
“ Sesungguhnya engkau tidak akan mampu memberi hidayah terhadap orang yang engkau cintai, tetapi (ingatlah) hidayah itu datangnya dari Allah.
والعصر إنّ الإنسان لفي حسر إلاّ الّذين أمنوا وعملوا الصّالحات وتواصوا بالحقّ وتواصوا بالصّبر
“ Demi masa sesungguhnya Manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan penuh kesabaran “
Akhir tahun 2013 ini hampir seminggu penuh media massa baik cetak maupun elektronik mengekspos Pro dan Kontra tentang penyelenggaraan Pekan kondom nasional, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH mengatakan tujuan dari pekan Kondom adalah, untuk mengurangi penularan virus HIV melalui perilaku seks berisiko. Menurutnya, Kemenkes punya kewajiban untuk mengurangi penularan HIV, disisi lain Ismail Yusanto salah satu anggota Ormas Islam mengatakan, "Program bukan hanya gagal tetapi juga berbahaya karena ini bisa merusak cara berfikir seolah bahwa kalian bisa melakukan seks apa saja asal pakai kondom. Kita harus kembali ke cara yang benar bagaimana mengatasi persoalan berkembangnya penyakit HIV /AIDS, ini secara komprehensif." Sementara, psikolog Universitas Indonesia (UI) yang mengambil spesialisasi perilaku seksual, Zoya Amirin membantah bahwa kondom melegalisasi seks pra nikah. Meski demikian, dia tidak setuju dengan adanya pembagian kondom secara gratis pada acara Pekan Kondom Nasional. Yang penting dilakukan kata Zoya bukan membagikan kondom secara gratis tetapi bagaimana mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menggunakan kondom. "Karena tanpa edukasi semua percuma . Kita harus berbuat perubahan perilaku. Bagaimana melakukan perubahan perilaku yah edukasi .Edukasinya bukan hanya agama tetapi juga harus ada nilai-nilai budaya," kami sebagai praktisi pendidikan agak was was juga, kalau sampai acara tersebut jadi terselenggara, apa jadinya jika sebagian besar produsen kondom di Indonesia jadi membagi-bagikan produk mereka secara gratis kepada masyarakat sebagai ajang promosi, bisa jadi kita akan menemukan kondom dimana mana dan bahkan tidak menutup kemungkinan anak anak kita akan memainkanya walau hanya sekedar ditiup di kira Balon udara,sehingga saya setiap hari menyempatkan diri untuk meluangkan waktu menyimak dan melihat berita tersebut dari koran, televisi bahkan browsing di internet, dan alhamdulillah akhirnya kehawatiran saya pun terjawab, Panitia pekan kondom nasional akhirnya membatalkan acara yang rencananya akan di gelar mulai Pekan Kondom Nasional akan dimulai pada tanggal 1 Desember 2013, bertepatan dengan hari AIDS sedunia, dan berakhir pada 7 Desember 2013.Setelah mendapatkan penolakan dari sejumlah Ormas islam. kita harus bersyukur, tatkala kita disibukkan dengan kegiatan kita sehari hari masih ada teman teman kita yang berwasiat dalam kebaikan dan penuh kesabaran, bahkan ada guru dan siswa salah satu pondok diponorogo yang rela membagikan jilbab gratis kepada pengguna jalan raya sebagai upaya untuk menyindir pemerintah atas ketidak rasionalan pekan tersebut.  
            Apa yang dikatakan Zoya Amirin sangatlah tepat bahwa cara merubah perilaku yah dengan edukasi. Namun edukasi yang bagaimana yang sesuai dengan kenyataan saat ini, menurut kami edukasi yang dibangun dengan asas kerjasama yang baik akan menghasilkan nilai yang sempurna, peran guru/pendidik penting tapi lebih penting lagi peran keluarga dan masyarakat, apalagi kehidupan anak tidak 24 jam nonstop disekolah, justru kehidupan dilingkungan keluarga dan masyarakatlah yang lebih banyak, jika ada anak nakal seringkali sekolah yang jadi sasaran, contohnya: jika ada anak melakukan pelanggaran maka pertanyaan pertama yang terlontar dimasyarakat adalah “ Sekolah dimana dia” atau terkadang masyarakat menegur anak yang nakal dengan “apa disekolahan tidak diajarkan akhlak” dll. Kalau sudah seperti ini maka guru/pendidik haruslah sabar, bahkan harus ekstra sabar apalagi ketika menghadapi siswa yang susah diatur. Terkadang kita sering mendapati siswa yang kelihatan disekolah atau dilingkungan sekitar pendiam namun tidak demikian kenyataannya jika kita melihat aktifitas mereka di dunia maya baik itu Facebook, Twitter ataupun media sosial lainya, sehingga perlu sekali adanya kontrol dari semua pihak agar kebaikan tetap terjaga, Nasehat perlu hukuman sesekali juga diperlukan namun jangan sampai memaksakan kehendak kita terhadap mereka, karena tugas kita hanya menyampaikan kebenaran bukan memaksa mereka menjadi benar karena hidayah bukanlah kita yang membuat namun semua adalah kehendak Allah SWT. Saya teringat satu kalam hikmah :
لا تكرهوا أولادكم بأخلاقكم فإنهم يعيش في زمان غير زمانكم
“ Janganlah pernah memaksa anak anakmu mengikuti kebiasaanmu, karena mereka sekarang hidup dizaman bukan seperti zamanmu dulu.”
            Jika Ikhtiyar sudah kita lakukan namun masih belum ada hasil malah kita mendapati murid kita menjengkelkan dan melelahkan maka mari kita bersabar dan berdoa sambil menghadirkan gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tangan kita menuju ke Syurga. Kebahagiaan kita adalah saat menyadari murid murid kita merupakan butiran butiran tasbih pengabdian kita padaNYA. Subhanallah.... betapa seorang murid adalah sumber pahala bagi setiap guru, oleh karenanya, berikanlah yang terbaik kepada mereka, agar pahala yang kita dapatpun yang terbaik dariNYA. Amin .....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ok