Kalam Hikmah

Sabtu, 13 Desember 2014

Ikhlas Beramal dan Tingkah laku terpuji


DAFTAR  ISI
                                                                                       
HALAMAN  SAMPUL......................................................................................................i
KATA  PENGANTAR......................................................................................................ii
DAFTAR  ISI....................................................................................................................iii
BAB  I.           : PENDAHULUAN....................................................................................
A.    Latar belakang........................................................................................
B.     Rumusan masalah..................................................................................
C.     Tujuan masalah......................................................................................
BAB  II.          : IKHLAS BERAMAL.............................................................................
A.    Niat/ Motivasi Beramal (RS; 1)............................................................
B.     Menjahui Perbuatan Riya’/ Syirik Kecil (BM; 1512)..........................
BAB III.         : TINGKAH LAKU TERPUJI...............................................................
                        A. Pentingnya Kejujuran (RS; 623)...........................................................
                        B. Kejujuran Membawa Kebaikan (LM; 1675)........................................
                        C. Orang Yang Jujur Mendapat Pertolongan Allah (AN; 19)..................
BAB IV.         : PENUTUP.............................................................................................
A.    Kesimpulan.........................................................................................
B.     Saran...................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................




BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang                                                               
Dengan adanya pejjelasan tetentang mata kuliah Aqidah Akhlak menjadikan kita mengerti tentang hadist-hadist yang mendukung kita dalam memahami arti hadist-hadist tersebut. Mungkin sering kali kita salah faham dalam memahami makna hadist itu sendiri serta asbabul wurud adanya hadist tersebut. Tujuan daripada hadist tersebut juga berhubungan dengan pemaknaan seaslian hadist.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dinamakan niat itu?
2.      Apa motivasi niat seseorang dalam menjalankan amal kebaikan?
3.      Bagaimana cara kita menjauhi perbuatan riya’ atau syirik kecil?
4.      Apa esensi kejujuran dalam realisasi kehidupan?
5.      Apa dampak dari kejujuran?

C. Tujuan
Memperluas pengetahuan kita akan pentingnya hujjah dalam merealisasikan kehidupan. Perlu pemahaman tentang hakikat daripada niat itu sendiri beserta motivasi menjalankannya. Karena secara tidak langsung itu berhubungan dengan esensi ibadah. Perilaku yang baik dalam pergaulan di masyarakat sebagai bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam sosial masyarakat.







BAB II
IKHLAS BERAMAL

A. NIAT/ MOTIVASI BERAMAL (RS;1)
عن أَمير المؤمنين ابي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبدالعزى بن رياح بن عبدالله بن قرط بن رزاح بن عدي بن كعب بن لؤي بن غالب القريشي العدوي رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : انما الاعمال با لنيات وانما لكل امرئ مانوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اوامرأة ينكحها فهجرته الى ما هجر اليه ( متفق على صحته)
Terjemah Hadist;
“Amir Al-Mu’min, Abu Hafs Umar bin Al-Khaththab r.a., bin Nufail, bin Abdul ‘Uzza, bin Riyah, bin Abdullah bin Qurt bin Rajah, bin ‘Adiy, Ka’ab bin Luay, bin Galib keturunn Qurasy Al-Adawy, dia berkata bahwa dia mendengar Rosulullah SAW. telah bersabda, “ Sesungguhnya sah atau tiaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang di anggap bagi amaltiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang berhijrah (mengungsi dari daerah kafir ke daerah islam) semata-mata karena taat kepada Allah Ta’ala dan Rosulullah, maka hijrah itu di terima oleh Allah dan Rosulullah, dan barang siapa yang hijrah karena keuntungan dunia yang di kejarnya, atau karena perempuan yang di kawininya, maka hijrahnya berhenti pada apa yang ia niatkan akan hijrah kepadanya.”
            Berkenaan dengan niat, sebagian ulama’ mendefinisakan niat menurut syara’, sebagai berikut; النيات هي قصد فعل شيء مقترنا بفعله
Artinya; “Niat adalah menyengajakan untuk berbuat sesuatu di sertai (berbarengan) dengan perbuatannya.”
Ada juga yang mendefinisikan dengan ;الارادة المتوجهة نحو الفعل لابتغاء رضا الله وامتثال حكمه
Artinya; “Keinginan yang di tujukan untuk mengerjakan suatu perbuatan sambil mengharapkan ridha Allah. Dan menjalankan hukum-Nya.”
Di sepakati bahwa tempat niat adalah dalam hati dan di lakukan pada permulaan melakukan perbuatan untuk tujuan amal kebaikan. Para ulama’ sepakat bahwa niat sangatlah berperan penting dalam ajaran islam, khususnya dalam perbuatan yang berdasarkan perintah syara’ seperti menetukan sahnya suatu ibadah, niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah, tidaklah sah suatu ibadah, seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila di lakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.
Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan di terima atau tidaknya suatu amal oleh Allh SWT. Sholat umpamanya, yang di anggap sah oleh pandangan syara’ karena memenuhi berbagai berbagai syarat dan rukunnya, belum tentu di terima dan berpahal kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin di katakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapkan ridho Allah saja, sebagai mana firman Allah SWT;
وما أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدّين حنفاء ويقيموا الصلوة ويؤتوا الزكوة وذالك دين القيّمة   (البينة : 5)
Artinya; “ Tidaklah mereka di perintah, kecualai untuk menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama, lurus, dan mendirikan shalat, mengeluarkan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah; 5)
Niat atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah saja. Dengan demkian, seseorang yang melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya salah atau tida ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya.
Rosulullah bersabda:
عن ابى هريرة لاضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله لا ينظر الى اجسامكم ولا الى صوركم ولكن ينظر الى قلوبكم    (رواه مسلم)
Artinya; “ Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rosulullah SAW. Bersabda , ‘sesungguhnya Allah SWT. Tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi melihat (memperhatikan niat dan keikhlasan dalam) hatimu.” (HR. Muslim)
Dengan demikian orang yang tidak ikhlas dalam meakukan perintah Allah, mislanya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia tidak akan memberikannya apa-apa kelak di akhirat.
Pernyataan sebagian ulama’ salf, sebagaimana di sebutkan M. Yunan Nasution dalam buku pandangan hidup 2, tentang niat patut di renungkan;
رُبّ عمل صغير تعظمه النية ورب عمل كبير تصغره النية
“Kerap kali amal yang kecil menjadi besar karena (baik) niatnya, dan seringkali juga amal yang besar menjadi kecil karena (salah) niatnya”
Kesimpulan; Niat sangat menentukan sahnya suatu perbuatan syara’, dan motivasi sangat menentukan di terimanya suatu perbuatan (ibadah). Allah SWT. Akan menerima amala ibadah yang di niati keikhlasan serta hanya mengharap ridha-Nya.
                    
B. MENJAUHI PERBUATAN RIYA’/SYIRIK KECIL (BM; 1512)
عن محمود ابن لبيد قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنّ أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر : الرّياء .
 ( أخرجه احمد بإسناد حسن )
Terjemah Hadist;
“Dari Mahmud bin Lubaid bahwa Rosulullah SAW. Bersabda, ’sesuatu yang paling aku khawatirkan di antara kamu adalah syirik kecil, yaitu riya’.”
Riya’ artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT., melainkan bertujuan untuk di lihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah Ta’ala.
            Sebagaimana telah di singgung dalam bahasa niat, orang yang beribadah dengan riya’ tidak akan mendapat pahala dari Allah melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya’ sebagaimana bunyi hadist di atas di kategorikan ssebagai syirik kecil. Artinya dia mempercayai Allah SWT. Sebagai Tuhannya, tetapi pengabdiannya tidak utuh kepada-Nya, melainkan kepada makhluk-Nya. Dengan kata lain hakikat amal mereka adalah penipuan belaka.
Allah SWT. Berfirman;
ان المنفقين يخدعون الله وهو خادعهم  واذاقاموا الى الصلاة قاموا كسالى يراؤن الناس ولا يذكرون الله الا قليلا 
 (النساء : 142)


Artinya;
 “Bahwasannya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, ketika mereka berdiri melaksanakan sholat, mereka malas melakukannya, hanya pujian manusialah tujuan utamanya. Mereka tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit.”   (QS. An-Nisa’;142)
            Imam Ghozali, dalam kitab Ihya’ Ulum Ad-Din, membagi riya’ menjadi beberapa tingkatan, yaitu;
1. Tingkata paling berat, yaitu orang yang tujuan setiap ibadahnya hanyalah untuk riya’ semata-mata dan tidak mengharapkan pahala. Misalnya seseorang yang melakukan sholat kalau di hadapan orang banyak, sedangkan apabila ia sendirian ia tidak melakukannya. Bahkan sholat tanpa berwudlu terlebih dahulu.
2. Orang yang beramal dan mengharapkan pahala,  tetapi harapannya sangat lemah karena di lakukan oleh riya’. Dia beramal ketika di lihat orang, sedangkan bila sendirian amalnya sangat sedikit. Misalnya seseorang yang memberikan sedekah banyak di hadapan orang, tetapi kalau sendirian (tidak ada yang melihat) ia memberikan sedikit saja sedekahnya.
3. Niat memperoleh pahala dan riya’ seimbang. Kalau dalam satu ibadah hanya terdapat salah satunya saja. Misalnya mendapat pahala, tetapi ia tidak bisa riya’, ia tidak mau melakukan ibadah. Demikian juga sebaliknya. Hal itu berarti merusak perbuatan baik, yakni bercampurnya pahala dan dosa.
4. Riya’ (di lihat orang)hanya pendorong untuk melakukan ibadah, sehingga jika tidak di lakukan orangpun, dia tetap melakukan ibadah. Hanya saja ia lebih semangat kalau di lihat orang.
Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya’ ada 3;[1]
1. Malas beramal kalau sendirian
2. Semangat beramal kalau di lihat banyak orang
3. Amalnya bertmabah banyak kalau di puji oleh manusia dan berkurang kalau di cela manusia.
Syaqiq bin Ibrahim, yang di ikuti oleh Abu Laits Samarqandi, berpendapat bahwa ada 3 perkara yang menjadi benteng amal, yaitu;
1. Hendaknya mengakui bahwa amal ibadahnya adalah pertolongan Allah., agar penyakit ujub di hatinya hilang
2. Semata-mata hanya mencari ridha Allah. Agar hawa nafsunya teratur
3. Senantiasa hanya mengharap ridha Allah SWT. Agar tidak timbul rasa tamak atau riya’
Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi orang-orang yang suka riya’ dalam beramal. Bahkan dengan tegas di nyatakan bahwa orang riya’ akan celaka walaupun ia rajin dalam ibadahnya.
Allah SWT. Berfirman;
فويل للمصلين  الذين هم عن صلاتهم ساهون  الذين هم يراءون ويمنعون الماعون .  (الماعون : 4-7)
Artinya; “Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya. Yang mengerjakan kebaikan karena riya’ lagi pula enggan menolong dengan barang berguna (enggan membayar zakat).”  (QS. Al-Ma’un; 4-7)
Kesimpulan; Riya’ adalah melakukan suatu ibadah bukan di dasarkan karena Allah SWT. Tetapi karena makhluk-Nya. Riya’ akan sangat merugikan bagi dirinya, karena segala amal ibadahnya akan sia-sia. Itulah sebabnya riya’ sangat berbahaya, bahkan di kategorikan sebagai syirik kecil. Namun demikian, seseorang tidak boleh enggan untuk beramal hanya karena takut riya’.





BAB III
TINGKAH LAKU TERPUJI

A. PENTINGNYA KEJUJURAN (RS; 623)
وعن ابى امامة الباهلي رضي الله عنه قال : قال رسول الهه صلى الله عليه وسلم : أنا زَعيم ببيت في رياض الجنّة لمن ترك المراء وان كان مُحِقا و ببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وان كان مازحا وببيت في اعلى الجنة لمن حسن خلقه . (رواه ابوداود بإسناد صحيح)
Terjemah Hadist;
“Abu Umamah Al-Bakhili r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “saya dapat menjamin suatu rumah di kebun syurga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. Danmenjamin suatu rumah di pertengahan syurga bagi orang yang tidak berdusta mekipun bergurau. Dan menjamin suatu rumah di bagian yang tertinggi dari syurga bagi orang yang baik budi pekertinya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
            Hadist di atas menerangkan 3 perilaku penting yang mendapatkan jaminan syurga dari Rosulullah bagi mereka yang memilikinya. Tentu saja, ketiga perilaku ini harus di iringi berbagai kewajiban lainnya yang telah di tentukan Islam. Ketiga perilakutersebut yakni;
1. Orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar
            Berdebat atau berbantah-bantahan adalah suatu pernyataan dengan maksud untuk menjadikan orang lain memahami suatu pendapat atau mengurangi kewibawaan lawan debat dengan cara mencela ucapannya sekalipun orang yang mendebatnya itu tidak tahu persis permasalahan, karena kebodohannya. Dan yang lebih di tonjolkan dalam berdebat adalah keegoannya sendiri sehingga ia berusaha mengalahkan lawan debatnya dengan berbagai cara.[2]
Akan tetapi tidak semua perdebatan itu di larang, seperti dalam bentuk ketika berdebat dengan orang-orang kafir tentang aqidah, maka kita harus mempertahankan pendapat kita dalam berbagai cara supaya mereka menyadari bahwa aqidah kita memang benar dan mereka salah.
Firman Allah SWT;
وان الشيطين ليوحون الى اوليائهم ليجادلوكم  وان اطعتموهم انكم لمشركون  (الانعام : 121)
Artinya; “Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musrik.”  (QS. Al-An’am; 121)
2. Orang yang tidak berdusta meskipun bergurau
            Berdusta adalah menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Dust sangat di larang dalam Islam. Karena selain merugikan orang lain, juga merugikan diri sendiri.
Firman Allah SWT;
ويوم القيمة ترى الذين كذبوا على الله وجوههم مسودة اليس في جهنم مثوى للمتكبرين . ( الزمر : 60)
Artinya; “ Pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah , mukanya menjadi hitam. Bukankah di dalam neraka jahannam itu ada tempat bagi orang yang menyombongkan diri.”  (QS. Az-Zumar : 60)
3. Orang yang baik budi pekertinya
            Sifat lain yang meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah SWT. Dan juga dalam pandangan manusia adalah akhlak terpuji. Sifat orang yang berakhlaq terpuji/ mulia, di antaranya adalah bermuka manis, berusaha untuk membanttu orang lain dalam perkara yang baik, serta menjaga diri dari perbuatan jahat. Orang yang memiliki sifat seperti itu, selain di janjikan syurga juga di anggap sebagai orang yang paling baik di antara sesama manusia lain.
Rosulullah SAW. bersabda;                                                      
وعن عبد الله بن عمر وبن العاص رضي الله عنهما قال : لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفحشا وكان يقول : ان من خياركم احسنكم اخلاقا .   ( متفق عليه)
Artinya; “Abdullah bin Amru bin Al-Ash r.a, berkata, “ Rosulullah SAW. Bukan seseorang yang memiliki perilaku dan perkataan yang keji. Nabi SAW. Bersabda, “sebaik-baik kamu ialah yang terbaik akhlak (budi pekertinya).”  (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan; Ada 3 perilaku yang sangat penting untuk di lakukan dalam pergaulan di masyarakat, yaitu; meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, tidak berdust meskipun ia bergurau, dan baik budi pekertinya. Rosulullah menjamin bahwa mereka memiliki tiga sifat tersebut akan mendapat syurga, masing-masing dalam tingktan yang berbeda-beda.

B. KEJUJURAN MEMBAWA KEBAIKAN (LM; 1675)
حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ان الصدق يهدي الى البر وان البر يهدي الى الجنة وان الرجل ليصدق حتى يكون صديقا . وان الكذب يهدي ال الفجور وان الفجور يهدي الى النار . وان الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا . ( اخرجه البخاري فى : 78 كتاب الادب : 69 باب قول الله تعالى : يا ايها الذين امنوا اتقواالله و كونوا مع الصادقين )
Terjemah Hadist;                                               
Abdullah ibnu Mas’ud berkata bahwa Nabi SAW. Bersabda, “sesungguhnya benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun kepada syurga, dan seseorang itu berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah SWT. Sebagai seorang yang siddiq (yang sangat jujur dan benar). Dan dusta menuntun kepada curang, dan curang menuntun ke dalam neraka. Dan seorang yang berdusta sehingga tercatat di sisi Allah SWT sebagai pendusta.”   (Di keluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab “tatakrama” bab; firman Allah Ta’ala; Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu semua bersama orang-orang yang benar.”)
            Sebagaimana di terangkan di atas bahwa berbagai kebaikan dan pahala akan di berikan kepada orang yang jujur, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ia akan di masukkan ke dalam syurga dan mendapat gelar yang sangat terhormat, yaitu shiddiq, artinya orang yang sangat jujur dan benar. Oleh karena itu, setiap orang beriman hendaklah tidak asal bicara apalagi terhadap sesuatu yang belum jelas dan belum ia ketahui kebenarannya secara pasti. Allah SWT. Berfirman;
ولا تقف ما ليس لك به علم  ( بني اسرائيل : 36)
Artinya; “ janganlah mengikuti pembicaraan apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Bani Israil; 36)
Jika seseorang berusaha untuk berkata benar, manfa’atnya tidak hanya bagi dirinya saja melainkan juga kepada orang lain. Begitupun sebaliknya, jika seseorang berkata dusta, perbuatannya itu selain merugikan dirinya sendiri juga merugikan orang lain karena tidak akan ada lagi orang lain yang mempercayainya. Padahal kepercayaan adalah salah satu modal utama dalam menempuh kehidupan di dunia. Tanpa kepercayaan seseorang sulit menemukan kesuksesan, bahkan tidak mustahil hidupnya akan cepat hancur.
C. ORANG YANG JUJUR MENDAPAT PERTOLONGAN ALLAH (AN; 19)
عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النبي لى الله عليه وسلم قال : من اخد اموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن اخدها يريد اتلافها اتلفه الله  ( رواه البخارى وابن ماجه وغيرهما )
Terjemah Hadist;                                                                       
“Abu Hurairah r.a., berkata bahwa Rosulullah SAW. Bersabda, “Barang sipa yang menggunakan harta orang lain (untuk berdagang) dan dia ingin mengembalikannya, maka Allah akan (membantu) mengembalikannya. Dan barang siapa mengambilnya dengan maksud untuk merusaknya, Allahpun akan merusaknya.”
Penjelasan hadist ini bisa di contohkan sebagaimana dalam kehidupan bermasyarakat, ada sebagian yang suka meminjam uang atau barang kepada orang lain untuk di gunakan sebagai penunjang usahanya dan berniat untuk mengembalikannya. Peminjam tidak  berniat menipu pemiliknya dengan menggunakan uang tersebut untuk berfoya-foya atau yang lain sehingga habis dan lupa mengembalikannya. Oleh karena itu si peminjam harus selalu ingat bahwa status uang tersebut adalah amanat dan harus di jaga dan di kembalikan ketika sudah ada uang untuk menggantinya.
Firman Allah SWT,;
ان الله يأمركم ان تؤدواالأمانات الى اهلها  ( النساء : 58)
Artinya; “Sesungguhnya Allah SWT. Menyuruh kamu semua agar memenuhi amanat kepada yang berhak menerimanya.”
Kesimpulan; Orang yang jujur akan mendapat pertolongan dari Alla SWT. Salah satu contoh kejujuran adalah dalam hal perniagaan. Orang yang meminjam barang atau uang untuk di jadikan modal dalam suatu perniaaan dan secara jujur ia ingin mengembalikan modal tersebut, Allah SWT. Pasti akan membantunya. Sebaliknya, apabila ia berniat jahat tidak mau mengembalikannya, Allah SWT. Akan merusak harta dan kehidupannya di dunia serta memberinya azab kelak di akhirat.
                                                                                                         

















BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Niat sangat menentukan sahnya suatu perbuatan syara’, dan motivasi sangat menentukan di terimanya suatu perbuatan (ibadah). Allah SWT. Akan menerima amala ibadah yang di niati keikhlasan serta hanya mengharap ridha-Nya.Riya’ adalah melakukan suatu ibadah bukan di dasarkan karena Allah SWT. Tetapi karena makhluk-Nya. Riya’ akan sangat merugikan bagi dirinya, karena segala amal ibadahnya akan sia-sia. Itulah sebabnya riya’ sangat berbahaya, bahkan di kategorikan sebagai syirik kecil. Namun demikian, seseorang tidak boleh enggan untuk beramal hanya karena takut riya’.
Ada 3 perilaku yang sangat penting untuk di lakukan dalam pergaulan di masyarakat, yaitu; meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, tidak berdust meskipun ia bergurau, dan baik budi pekertinya. Rosulullah menjamin bahwa mereka memiliki tiga sifat tersebut akan mendapat syurga, masing-masing dalam tingktan yang berbeda-beda.Kejujuran menuntun pelakunya pada kebaikan dan menuntunnya masuk syurga, dan ia di catat sebagai seorang yang siddiq. Sebaliknya, berdusta akan menuntun pelakunya pada perbuatan curang dan curang menuntunnya masuk ke dalam neraka dan ia di catat sebagai pendusta.Orang yang jujur akan mendapat pertolongan dari Alla SWT. Salah satu contoh kejujuran adalah dalam hal perniagaan. Orang yang meminjam barang atau uang untuk di jadikan modal dalam suatu perniaaan dan secara jujur ia ingin mengembalikan modal tersebut, Allah SWT. Pasti akan membantunya. Sebaliknya, apabila ia berniat jahat tidak mau mengembalikannya, Allah SWT. Akan merusak harta dan kehidupannya di dunia serta memberinya azab kelak di akhirat.     

B. Saran




DAFTAR PUSTAKA
Al-Hadist (Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum)
Syamsuddin Adz-Dzahaby, Al-Kabair, Jkt; Dinamika Berkat Utama, t,t., hlm. 123
Al-Faqih Abu Laist Samaerqandi, Tanbihul Ghofilin (Pembangun Jiwa Moral), Malang; Dar Al-Ihya’, 1986., hlm.15 penerjemah; Abu Imam Taqiyuddin, BA.
Dr. Faruq Humadah, Al-Washiyah An-Nabawiyah li Al-Ummah Al-Islamiyah fi Hajjal Wada’, Beirut; Dar Ihya’ Al-Ulum, 1995. Hlm.106


[1] Syamsuddin Adz-Dzahaby, Al-Kabair, ( jakarta, Dinamika Berat Utama, t,t. ) hlm. 123
[2]Al-Ghazali, Op. Cit., hal 114