Kalam Hikmah

Senin, 07 September 2015

Letak cincin laki laki yang benar

Cincin memakai akik ataupun tidak Apakah tepat dikenakan di jari tengah atau jari telunjuk sebagaimana dilakukan sebagian orang?berikut adalah tata letak Cincin di Jari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كَانَ خَاتِمُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى هَذِهِ. وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصَرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengenakan cincin di sini.” Anas berisyarat pada jari kelingking di tangan sebelah kiri. (HR. Muslim no. 2095).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa yang sesuai sunnah, cincin pria diletakkan di jari kelingking. Sedangkan untuk wanita, cincin tersebut diletakkan di jari mana saja.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 65).
Adapun hikmah memakai cincin di jari kelingking yaitu jauh dari pelecehan sebab letak cincin tersebut di jari paling pinggir. Selain itu, tidak mengganggu aktivitas, berbeda jika dipasang di jari lain. Demikian disebutkan oleh Imam Nawawi di halaman yang sama.
Jari Terlarang untuk Cincin Laki-Laki

Imam Nawawi membawakan judul bab dalam Syarh Shahih Muslim, “Larangan memakai cincin di jari tengah dan jari setelahnya.”
Disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib, ia berkata,
نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَخَتَّمَ فِى إِصْبَعِى هَذِهِ أَوْ هَذِهِ. قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِى تَلِيهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang padaku memakai cincin pada jari ini atau jari ini.” Ia berisyarat pada jari tengah dan jari setelahnya. (HR. Muslim no. 2095).
Imam Nawawi menyebutkan dalam riwayat lain selain Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah jari telunjuk dan jari tengah.
Imam Nawawi menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan larangan memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah bagi laki-laki adalah makruh tanzih (bermakna: makruh, bukan haram). Lihat Syarh Shahih Muslim, 14: 65.
Memakai Cincin di Jari Tangan Kanan ataukah Tangan Kiri?

Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama sepakat bolehnya memakai cincin di jari tangan kanan atau pun di jari tangan kiri. Tidak ada disebut makruh di salah satu dari kedua tangan tersebut. Para ulama cuma berselisih pendapat saja manakah di antara keduanya yang afdhal. Kebanyakan salaf memakainya di jari tangan kanan, kebanyakannya lagi di jari tangan kiri. Imam Malik sendiri menganjurkan memakai di jari tangan kiri, beliau memakruhkan tangan kanan. Sedangkan ulama Syafi’iyah yang shahih, jari tangan kanan lebih afdhal karena tujuannya adalah untuk berhias diri. Tangan kanan ketika itu lebih mulia dan lebih tepat untuk berhias diri dan juga sebagai bentuk pemuliaan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 14: 66.
Kesimpulannya, jari tangan yang terbaik untuk memakai cincin bagi laki-laki adalah jari kelingking pada tangan kiri. Adapun jari yang terlarang (makruh) dipakaikan cincin adalah jari tengah dan jari telunjuk. Sedangkan jari manis, masih bisa dikenakan. Adapun untuk wanita, bebas memakai cincin di jari mana saja.

Rabu, 02 September 2015

Hukum memandikan jenazah yang tidak utuh lagi

JANAZAH: Mayat Remuk / Hancur dan Korban Mutilasi Wajibkah Dimandikan
Kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya hanya dalam masalah memandikan diganti dengan tayammum...
(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)... الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .
Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya.
Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya
Al Bajuri 1/ 242 - 243
وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ
“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”
Asna alMathoolib I/305Lihat Selengkapnya
وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ... كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ
قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .ا هـ .
Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati
(Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”)
dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”
Hasyiyah Bujairomi VI/98, I/455 Wallaahu A'lamu bis showaab.

Senin, 17 Agustus 2015

Kenapa orang baik sering tersakiti (menurut habib salim asyathiri)

KALAM AL ALAMAH AL-HABIB SALIM BIN ABDULLA AS-SYATIRI
Tarim Hadlramaut Yaman
MENGAPA ORANG BAIK SERING TERSAKITI???
Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.
MENGAPA ORANG BAIK KERAP TERTIPU??
Karena orang baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tak menyisakan sedikit pun prasangka bahwa orang yg ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.
MENGAPA ORANG BAIK ACAP DINISTA???
Karena orang baik tak pernah mau membalas. Ia hanya menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.
MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA??
Karena orang baik tak ingin membagi kesedihannya. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Allah SWT akan mengganti kesabarannya.
MENGAPA ORANG BAIK TAK PERNAH MEMBENCI YANG MELUKAINYA???
Karena orang baik selalu memandang bahwa di atas semua, Allah-lah hakikatnya. Jika Allah menggiringnya, bagaimana ia akan mendebat kehendakNYA itu sebabnya orang baik tak memiliki lemari dendam dalam kalbunya. Jika kau buka laci-laci di hatinya, akan kau temukan hanya Cinta yang dimilikinya.
Mudah2an kita semua termasuk orang baik seperti yg dikatakan diatas...
Amiin
Foto Rakyat Pinggiran.Foto Rakyat Pinggiran.

Jumat, 03 Juli 2015

AL HABIB AHMAD AL MUHDHOR

AL HABIB AHMAD AL MUHDHOR DAN IBUNDA HADIJAH AL KUBRO RA
.
Terik matahari memanggang kota Mekah. Masjidil Haram tengah disesaki jemaah haji. Hari itu Jumat. Seorang khatib berdi­ri di atas mimbar Ia membacakan se­buah khutbah yang teramat panjang. Lama sekali sang khatib berkhut­bah. Jamaah tersiksa oleh sengatan siang. Maklum, saat itu bertepatan musim panas. Keringat becucuran deras. Usai khutbah, sang khatib mengimami salat. Anehnya, salat ini dilakukan dengan sangat cepat. Surat yang ia pakai pun yang pendek-pendek.
Setelah salam, seorang jamaah menghampiri khatib. Namanya Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor. Tangannya menggenggam sebatang tongkat. Lalu tanpa diduga, sang habib menggebuk khatib denga tongkat sembari berkata-kata lantang, “Kamu telah membolak-balik sunnah Rasulullah SAW. Mestinya kamu meringkas khotbah dan sedikit memanjangkan salat.” Khatib itu ber­teriak kesakitan. “Hai orang-orang, aku dipukuli seorang Hadrami…! Habib Ahmad menimpali, “Aku bukan Hadrami,” ia lalu bersenandung,
Kami mengenal Batha'(sebuah daerah di Mekah) dan ia mengenal kami
Bukit Shafa dan Baitullah (Ka’bah) mencintai kami
Kota Mekah geger. Sang Amir, Muhammad bin Awan geram. Diperintahkannya polisi untuk menangkap Habib Ahmad dan menghu­kumnya di depan khalayak. Keresahan melanda warga Hadrami. Mereka mengkhawatirkan nasib habib tercinta itu. “Tak usah khawatir! Ibundaku, Khadijah binti Khuwailid, selalu ber­samaku,” ujar Habib Ahmad mene­nangkan. “Aku akan berlindung di tempatnya.” lanjutnya.
Saat itu juga ia bergegas ke kubah Sayidah Khadijah ra, istri mulia Baginda Nabi SAW. Sepasukan polisi mengejar di belakangnya. Sesampai di depan kubah, peristiwa ajaib terjadi, pintu kubah… terbuka dengan sendirinya. Habib Ahmad masuk, dan pintu itu tertutup kembali. Para polisi berusaha membuka, namun tak kuasa.
Mereka menemui juru kunci ku­bah dan meminta kunci. Namun ia enggan menyerahkan. “Takkan ku­berikan kunci ini kepada siapa pun.” Akhirnya dengan luapan amarah, mereka mengambil secara paksa. Berbekal kunci itu, mereka berhasil membuka pintu kubah. Tapi ajaib, Habib Ahmad tak kelihatan batang hidungnya. Mereka mencari-cari, na­mun hasilnya nihil, ia seperti raib di perut bumi.
Para abdi praja itu akhirnya me­nyerah. Mereka melapor pada Muh. B. Awan perihal kejadian luar biasa itu. Ia merasa takjub. la ke­mudian menanyai warga Hadrami mengenai siapa sebenarnya Habib Ahmad. Ketakjubannya kian mem­bumbung kala mengetahui kesejatian sosok habib yang alim itu.
Penguasa Mekah itu kemudian mengadakan jamuan istimewa untuk Habib Ahmad sebagai tanda maaf. Sang Habib menyambut hangat. Di tengah jamuan itu, Muh. B. Awan membujuk Habib Ahmad agar bersedia menetap di Mekah. Habib Ahmad tidak langsung menjawab ya ataupun tidak. “Aku tanyakan dulu kepada ibundaku, Khadijah AI-Ku­bra.” katanya. Beberapa hari kemudi­an, ia mendatangi Syarif dan membe­ri kabar, “Maaf Amir, Ibunda Khadi­jah menghendaki aku untuk kembali ke Quwereh.” Peristiwa itu terjadi pa­da musim haji tahun 1250 Hijriyah.
HAFAL AL-QUR’AN
Habib Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Muhdor lahir di kota Ra­syid, lembah Dau’an,Hadramaut(Yaman)tahun 1217 Hijriyah. Saat masih kanak­-kanak, ia diboyong ayahnya ke Hara­main. Di sana ia berhasil menghafal Alquranul Karim dalam usia tujuh ta­hun dengan bacaan yang bagus. Ia kemudian menekuni berbagai bidang pengetahuan. Diantara guru-gurunya di Mekah adalah: Syekh Umar bin Abdurrasul al-Attar, Syekh Muham­mad Sholeh ar-Rais, Syekh Ahmad as-Showi al-Mishri dan Syekh Abdur­Rahman al-Kazbaniy.
Setelah bekal ilmunya lumayan mumpuni, ia mulai sering diajak mondar-mandir antara Mekah dan Hadramaut oleh ayahnya. Ketika singgah di Hadramaut, ia menyempatkan diri menimba ilmu kepi ulama-ulama besar di sana, seperti Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr, Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Attas, Habib Abmad bin Umar bin Sumaith, Habib Abdullah bin Idrus al-Barr dan Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan.
Menginjak usia dewasa, ia memutuskan kembali ke kota Rasyid. Ia menempati rumah salah satu pam dari pihak ibunya yang merupakan keluarga besar marga Bazar’ah. la kemudian menikah dengan seorang wanita salehah dari keluarga al-Habsyi. Dari pernikahan ini ia dikaruniai putra dan putri bernama Umar, Hamid, Hadun, Khadijah, dan lainnya.
Selanjutnya, setelah memiliki uang cukup, ia membeli sebuah rumah daerah Quwereh. Di kota itu ia menikah lagi dengan wanita dari keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim setelah istri pertamanya meninggal dunia. Pernikahan kedua ini membuahkan beberapa putra dan putri diantaranya: Muhammad, Musthafa dan Sholeh.
Dari kota inilah, nama Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor terus menjulang. Cahaya ilmu dan akhlaknya menerangi negeri Hadramaut, bahkan seluruh persada bumi. la dicintai kaum muslimin. Kalam-kalamnya mudah diterima lubuk hati. Dan tersingkaplah nubuat yang pernah ditorehkan Syekh Umar Ba­makhramah.
Ya, beratus tahun sebelumnya, Syekh Umar menulis untaian syair yang mengilustrasikan sosok Habib Ahmad alMuhdor. Dilukiskannya perangai Habib Ahmad beserta tempat-tempat yang pernah ia singgahi. Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr, salah satu guru Habib Ahmad, ketika membaca syair itu, ia berseru kepada orang-orang sekitarnya, “Katakan kepada Ahmad al-Muhdor bahwa Syekh Bamakhramah mengajaknya bicara.”
Selain berilmu tinggi, Habib Ahmad dikenal keras dalam mujahadah. Jauh hari ia telah menyiapkan liang kuburnya sendiri yang ditempatkan di sebelah masjidnya. la meluangkan waktu berbaring di liang itu setiap hari sembari membaca Alquran. Tercatat tujuh ribu kali khataman ia selesaikan di dalam kubur itu sebelum akhirnya meninggal dunia. Namun ia juga pribadi yang unik. Di balik kekhu­syuannya itu ia selalu menampakkan diri sebagai sosok yang jenaka. la suka bergurau. Gurauannya bahkan kadang keterlaluan. Pernah ia menyesal dan berniat takkan bergurau lagi. Akan tetapi ia langsung ditegur Rasulullah SAW dalam mimpi agar me­neruskan kebiasaannya bergurau.
Hati Habib Ahmad memiliki per­tautan yang erat dengan Ummul Mukminin, Khadijah al-Kubra. la menulis kumpulan syair yang memu­ji ibunda Az-Zahra itu. Hikayat di atas adalah salah satu bukti. Dan akhirnya ia menyusul ibundanya itu pada tahun 1304 H, dalam usia 87 ta­hun. la meninggalkan beberapa putra yang shaleh. Salah satunya adalah Habib Muhammad al-Muhdor, Bon­dowoso, seorang ulama yang pernah meramaikan belantika dakwah di Nu­santara ini. la juga meninggalkan beberapa murid yang hebat. Dian­taranya: Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi.
Foto : Muhammad Bin Ahmad Al Muhdhor Bondowoso Anaknya Habib Ahmad Al Muhdhor Qweireh Hadramauth

Jumat, 19 Juni 2015

kewajiban orang tua terhadap anak

KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK
وقد جاء في حديث أخرجه ابن المبارك في البر والصلة وابن أبي الدنيا قول النبي صلى الله عليه وسلم : ((حق الولد على الوالد أن يحسن اسمه ويعلمه الكتابة ويزوجه إذا بلغ))
Ada hadits yang ditakhrij oleh Ibnul Mubarok dan Ibnu Aby dunya : Hak anak atas orang tuanya yaitu memberikan nama yang bagus/baik,mengajarkan baca tulis,dan menikahkannya ketika sudah baligh.
Terkait kewajiban ortu terhadap anak berlaku semenjak usia tamyiz,tentang kewajiban yg harus diberikan kpd anak meliputi:
1.perintah sholat plus syarat2ny.
2.pengenalan tentang aqidah dasar (khomsinah aqidatan).
3.pengenalan kepada Nabi Muhammad SAW.
4.Mengajarkan tentang perkara2 yg bersifat dhoruri (pokok) yg dianggap kufur bg yg inkar (I'anah juz 1,hal 35 beirut, nihayatu zein,is'adu rrofiq)..
قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله على الآباء والأمهات تعليم أولادهم الصغار ما سيتعين عليهم بعد البلوغ فيعلمه الولي الطهارة والصلاة والصوم ونحوها ويعرفه تحريم الزنا واللواط والسرقة وشرب المسكر والكذب والغيبة وشبهها: ويعرفه أن بالبلوغ يدخل في التكليف ويعرفه ما يبلغ به: وقيل هذا التعليم مستحب والصحيح وجوبه وهو ظاهر نصه وكمايجب عليه النظر في ماله وهذا أولى وإنما المستحب ما زاد علىهذا من تعليم القرآن وفقه وأدب: ويعرفه ما يصلح به معاشه ودليل وجوب تعليم الولد الصغير والمملوك قول الله عزوجل (يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا) قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه ومجاهد وقتادة معناه علموهم ما ينجون به من النار وهذا ظاهر: وثبت في الصحيحين عن ابن عمر رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كلكم راع ومسئول عن رعيته ثم أجرة التعليم في النوع الأول في مال الصبي فإن لم يكن له مال فعلى من تلزمه نفقته
Dalam Mirqotul Mafatih
وعن أبي سعيد وابن عباس - رضي الله عنه - ما قالا : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من ولد له ولد فليحسن اسمه وأدبه فإذا بلغ فليزوجه فإن بلغ ولم يزوجه فأصاب إثما فإنما إثمه على أبيه .الحاشية رقم: 13138 - ( وعن أبي سعيد وابن عباس قالا : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : من ولد له ولد ) أي : ذكرا أو أنثى ( فليحسن ) بالتخفيف والتشديد ( اسمه وأدبه ) أي : معرفة أدبه الشرعي ( وإذا بلغ ) وفي نسخة صحيحة بالفاء ( فليزوجه ) وفي معناه التسري ( إن بلغ ) أي : وهو فقير ( ولم يزوجه ) أي : الأب وهو قادر ( فأصاب ) أي : الولد ( إثما ) أي : من الزنا ومقدماته ( فإنما إثمه على أبيه ) أي : جزاء الإثم عليه لتقصيره وهو محمول على الزجر والتهديد للمبالغة والتأكيد ، قال الطيبي - رحمه الله - : أي جزاء الإثم عليه حقيقية ودل هنا الحصر على أن لا إثم على الولد مبالغة لأنه لم يتسبب لما يتفادى ولده من أصابه الإثم .
Dalam kitab Syu'bul Iman
(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ ، نا إِسْحَاقُ بْنُ الْحَسَنِ الْحَرْبِيُّ ، نا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، نا شَدَّادُ بْنُ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيُّ ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، وَابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَلْيُحْسِنِ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ ، فَإِذَا بَلَغَ فَلْيُزَوِّجْهُ فَإِنْ بَلَغَ وَلَمْ يُزَوِّجْهُ فَأَصَابَ إِثْمًا ، فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى أَبِيهِ " .
hadits marfu'
Rosulullah berssabda : Barang siapa yang terlahir atasnya seorang anak,maka baguskanlah nama dan adabnya,dan jika telah baligh maka nikahkanlah.maka jika telah baligh dan belum dinikahkan ketika sianak melakukan satu dosa,maka dosanya ditanggung oleh bapaknya.
عن أبي سعيد وابن عباس رضي الله عنهم قالا: قال رسول الله (ص): من ولد له ولد فليحسن اسمه وأدبه، وإذا بلغ فليزوجه، فإن بلغ ولم يزوجه فأصاب إثما فإنما إثمه على أبيه :
اعانة الطالبين ٣/٢٥٤ :
Rosulullah berssabda : Barang siapa yang terlahir atasnya seorang anak,maka baguskanlah nama dan adabnya,dan jika telah baligh maka nikahkanlah. maka jika telah baligh dan belum dinikahkan ketika si anak melakukan satu dosa,maka dosanya ditanggung oleh bapaknya.
Kewajiban orang tua terhadap anaknya antara lain adalah :
1) Memilihkan istri/suami yang baik minimalnya harus memenuhi 4 syarat yaitu: rupawan, hartawan, bangsawan dan taat beragama. Dan yang di sebutkan terakhir adalah yang utama dari keempat syarat yang telah disebutkan (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
2) Berlindung kepada Allah sebelum melangsungkan acara jimak, karena tanpa membaca “Bismillahi Allahumma Jannibnasy syaithaana Wajannibisy syaithaana mimmaa razaqtana” setan akan ikut menjimaki sang istri. ( H.R Bukhari dan Muslim dari Ibni Abbas).
3) Mengazdankan/mengkomatkan pada telinga kanan/kiri bayi, langsung setelah lahir dan dimandikan (H.R Bukhari dan Muslim dari Asma binti Abu Bakar).
4) Menyembelih aqiqah, karena Rasulullah Saw, Bersabda: Anak-anak yang baru lahir sebaiknya di aqiqah, sebaiknya aqiqah disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran dan pada hari itu juga di cukur rambut serta di beri nama (H.R Bukhari dan Muslim dari Sulaiman bin Amir).
5) Melakukan penyunatan, Hukum penyunatan adalah wajib bagi anak laki-laki dan kemuliaan bagi anak perempuan. (H.R Ahmad dan Baihaqi dari Syaddad bin Aus).
6) Menyediakan pengasuh, pendidik/guru yang baik, kuat beragama dan berakhlak mulia, kalau orang tuannya kurang mampu.akan tetapi yang terutama bagi yang mampu adalah orang tuannya, di samping guru di sekolah dan ustadz di pengajian.
7) Mengajarnya membaca dan memahami Al-Qur’an, memberikan pendidikan jasmani. (H.R Baihaqi dari Ibnu Umar).
8) Memberikan makanan yang halal untuk anaknya.Rasulullah Saw. Pernah mengajarkan sejumlah anak untuk berpesan kepada orang tuanya dikala keluar mencari nafkah “selamat jalan ayah, Jangan sekali-kali engkau membawa pulang kecuali yang halal dan tayyib saja,” kami mampu bersabar dari kelaparan, tetapi tidak mampu menahan azab Allah Swt. (H.R Thabraani dalam Al-Ausaath).
9) Membiasakan berakhlak Islami dalam bersikap, berbicara, dan bertingkah laku, sehingga semua kelakuanya menjadi terpuji menurut islam. (H.R Turmudzi dari Jabir bin Samrah).
10) Menanamkan etika malu pada tempatnya dan membiasakan minta izin keluar/masuk rumah, terutama ke kamar orang tuanya, teristimewa lagi saat-saat zairah dan selepas shalat isya’. (Al-qur’an surat An-nur : 56).
11) Berlaku kontuitas dalam mendidik, membimbing dan membina mereka. Demikian juga dalam penyandangan dana dalam batas kemampuan,sehingga sanh anak mampu berdikari.(H.R Abu Daud bari abu Qalaabah).
12) Berlaku adil dalam memberi perhatian,wasyiat,biaya dan cinta kasih kepada mereka. (H.R Muslim dari Anas bin Malik).

Apa Benar meninggal malam Jumat tidak disiksa dalam kubur

KEMATIAN TIDAK ADA SIKSA DI HARI JUMAT...
MENINGGAL MALAM JUM'AT BEBAS SIKSA KUBUR
Meninggal di hari atau malam jum'at terjaga dari fitnah kubur :
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ) . رواه الترمذي
Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR Tirmidzi).
Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah siksa dan pertanyaan kubur.
Hadis ini merupakan dalil bahwa kemuliaan waktu mempunyai pengaruh yang besar sebagaimana keutamaan tempat juga mempunyai pengaruh yang besar.
Hadis tsb memang dhoif tapi mempunyai banyak syahid.
- kitab tuhfatul ahwadzi syarah sunan tirmidzi
( إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ) أَيْ حَفِظَهُ ( فِتْنَةَ الْقَبْرِ) أَيْ عَذَابَهُ وَسُؤَالَهُ وَهُوَ يَحْتَمِلُ الْإِطْلَاقَ وَالتَّقْيِيدَ وَالْأَوَّلُ هُوَ الْأَوْلَى بِالنِّسْبَةِ إِلَى فَضْلِ الْمَوْلَى وهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ شَرَفَ الزَّمَانِ لَهُ تَأْثِيرٌ عَظِيمٌ كَمَا أَنَّ فَضْلَ الْمَكَانِ لَهُ أَثَرٌ جَسِيمٌ قَوْلُهُ ( وَلَا نَعْرِفُ لِرَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ سَمَاعًا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو) فَالْحَدِيثُ ضَعِيفٌ لِانْقِطَاعِهِ لَكِنْ لَهُ شَوَاهِدُ قَالَ الْحَافِظُ فِي فَتْحِ الْبَارِي بَعْدَ ذِكْرِ هَذَا الْحَدِيثِ فِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ وَأَخْرَجَهُ أَبُو يَعْلَى مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ نَحْوَهُ وَإِسْنَادُهُ أَضْعَفُ انْتَهَى وقال القارىء فِي الْمِرْقَاةِ ذَكَرَهُ السُّيُوطِيُّ فِي بَابِ مَنْ لَا يُسْأَلُ فِي الْقَبْرِ.
قُلْتُ وَمِنْ تَتِمَّةِ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ فَكَانَ عَلَى قَاعِدَةِ الشُّهَدَاءِ فِي عَدَمِ السُّؤَالِ كَمَا أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ وأخرج حميد في ترغيبه عن إياس بن بَكِيرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ وَوُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَأَخْرَجَ من طريق بن جريح عَنْ عَطَاءٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ مُسْلِمَةٍ يَمُوتُ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ إِلَّا وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِوَفِتْنَةَ الْقَبْرِ وَلَقِيَ اللَّهَ وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَعَهُ شُهُودٌ يَشْهَدُونَ لَهُ أَوْ طَابَعٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ لَطِيفٌ صُرِّحَ فِيهِ بِنَفْيِ الْفِتْنَةِ وَالْعَذَابِ مَعًا انْتَهَى كَلَامُ السُّيُوطِيُّ

Selasa, 26 Mei 2015

Ukuran 2 Kullah Menurut Ahli Fikih

Ukuran Dua Qullah
Kadar air dua Qullah menurut beberapa versi Ulama :
Imam Nawawi >> -+ 55,9 CM = 174,58 Liter
Imam Rofi'i >> -+ 56,1 CM = 176,245 Liter
Ulama Iraq >> -+ 63,4 CM = 255,325 Liter
Mayoritas Ulama >> -+ 60 CM = 216 Liter
Air kurang dua Qullah yang kemasukan najis tersebut menjadi najis , baik mengalami perubahan atau tidak, dan tidak bisa lagi dipakai untuk :
ROF'I ALHADTS >> Menghilangkan hadats (besar atau kecil) seperti untuk mandi wajib wajib dan wudhu
IZAALATIN NAJIS >> Mengangkat barang yang terkena najis....
Air tersebut dapat digunakan lagi setelah ditambah dengan air suci lagi hingga menjadi lebih dari dua Qullah dan tidak ada perubahan padanya,.......
وأما الماء القليل المستعمل في إزالة النجس ويسمى غسالة النجاسة فقد وقع الإجماع على أن حكمه حكم المحل بعد الغسل إن كان نجسا بعد فنجس وإلا فطاهر بشروط :
أولها - أن ينفصل بعد غسل الشيء المتنجس ولم يتغير أحد أوصافه بالخبث
وثانيهما - ألا تزيد زنة الماء المنفصل عن المحل المتنجس بعد إسقاط ما يتشربه المغسول من الماء وإسقاط ما يتحلل من الأوساخ في الماء عادة
وثالثهما - أن يكون الماء واردا على الشيء المتنجس فإن كان مورودا بأن غمس الثوب المتنجس فيه فينجس وهذا الفرق بين الوارد والمورود قاعدة أخذها الشافعية من قوله صلى الله عليه و سلم : ( إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثا فإنه لا يدري أين باتت يده ) ( مسلم ج 1 / كتاب الطهارة باب 26 / 87 ، في رواية عن أبي هريرة رضي الله عنه )
Air bekas cucian najis tersebut sebenarnya bisa menjadi suci dengan syarat :
1. Air dan najisnya dapat dipisah dan tidak berubah salah satu sifat airnya
2. Bobot air bekas cucian najis tersebut tidak bertambah dengan mengukur kadar air yang terserap pada cucian serta kotorannya
3. Cara pencuciannya air yang kebarang bukan di balik, berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim Juz I Kitab Thoharoh
Fiqh al’Ibaadaat Li Assyaafi’iy I/52
وحاصل المعتمد ان يقال كل من الرغوة والرشاش ان تحقق كونه من البول فنجس والا فطاهر
Kesimpulan pendapat yang kuat kalau ada kejelasan bahwa busa dan percikan tersebut dari kencing maka menjadi najis, kalau tidak ada kejelasan maka suci........
Fath Aljawaad 59

Kamis, 09 April 2015

Hukum Operasi Cesar

OPERASI CESAR.......
( AL JIROHAH AL QOISORIYYAH )
- INGIN BAYI LAHIR DI TANGGAL YANG CANTIK
MISAL 17 AGUSTUS HUKUMNYA TIDAK BOLEH KARENA TIDAK ADA HAJAT ATAU DARURAT
- AGAR TETAP AWET MUDA < TIDAK BOLEH
- MEMUASKAN SUAMI ( SERASA PRWN TERUS ) < TIDAK BOLEH
- DARURAT
SEPERTI DIKAWATIRKAN KEMATIAN JANIN ATAU IBU < BOLEH BAHKAN WAJIB
- HAJAT < KETERLAMBATAN LAHIRNYA BAYI SEHINGGA TIMBUL SAKIT
Operasi Cesar Karena Ingin Menepatkan Tanggal Lahir
Jumlah ibu yang melahirkan melalui operasi cesar semakin meningkat. Para ibu memilih proses ini
dengan berbagai alasan, mulai dari mengurangi rasa sakit hingga sebagai langkah antisipasi jika bayi
diprediksi mengalami gangguan.
Dari sisi kepraktisan tentunya operasi ini sangat membantu ibu-ibu. Lebih dari itu dengan sesar, ibu
juga tahu pasti kapan bayinya akan lahir.
Selain manfaat positif, cesar juga mempunyai resiko. Ibu-ibu perlu memahami bahwa cesar
merupakan pembedahan besar di area perut. Prosedur ini melibatkan pembedahan melalui kulit,
perut, otot, dan kemudian masuk ke dalam rahim. Dari awal hingga akhir, biasanya memerlukan
waktu tiga hingga empat jam.
Pertanyaan:
Bagi ibu-ibu yang karena takut sakit, praktis, ingin anaknya lahir tepat tanggal yang dimaksudkan,
apakah hal ini dibenarkan?
Jawaban:
Alasan operasi cesar seperti yang disebutkan di atas belum dianggap cukup untuk diperbolehkannya
melakukan Operasi cesar. Sedangkan diperbolehkannya operasi cesar adalah ketika menurut dokter
muslim yang adil tindakan operasi harus dilakukan karena persalinan secara normal dapat
mengancam keselamatan atau berdampak negatif terhadap ibu, janin, atau keduanya.
Dasar Pengambilan Hukum:
ﺣﺎﺷﻴﺘﺎ ﺍﻟﻘﻠﻴﻮﺑﻲ ﻭﻋﻤﻴﺮﺓ ﺝ 4 / ﺹ 265
ﻗَﻮْﻟُﻪُ : )ﻭَﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻗَﻄْﻌُﻪُ ﺃَﻱْ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻹِﻧْﺴَﺎﻥِ ( ﺃَﻱْ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼُﻮﻡِ ﻗَﻮْﻟُﻪُ : ) ﻟِﻐَﻴْﺮِﻩِ ( ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻧَﺒِﻴًّﺎ ﻓَﻴَﺠِﺐُ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﻭَﺍَﻟَّﺘِﻲ
ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ . ﻗَﻮْﻟُﻪُ: )ﻭَﻣِﻦْ ﻣَﻌْﺼُﻮﻡٍ ( ﺃَﻱْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﺎﻃِﻊِ ﻓَﻴَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻣْﺘِﻨَﺎﻋُﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪِ ﺍﻟْﻤُﻬْﺪِﺭِﻳﻦَ ﻵﺧَﺮَ . ﻗَﻮْﻟُﻪُ : )ﻭَﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻗَﻄْﻌُﻪُ ( ﺃَﻱْ
ﻷَﻧَّﻪُ ﻣَﻌْﺼُﻮﻡٌ, ﻗَﻮْﻟُﻪُ : )ﻭَﻣِﻦْ ﻣَﻌْﺼُﻮﻡٍ ( ﻷَﻥَّ ﻋِﺼْﻤَﺔَ ﺑَﻌْﻀِﻪِ ﻛَﻌِﺼْﻤَﺔِ ﻛُﻠِّﻪِ. ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌِﺮَﺍﻗِﻲُّ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻔْﻬَﻢُ ﺟَﻮَﺍﺯَ ﻗَﻄْﻊِ ﺍﻟْﺒَﻌْﺾِ ﻣِﻦْ
ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼُﻮﻡِ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻟِﻠﺘَّﻌْﺬِﻳﺐِ ﺻَﺮَّﺡَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﺎﻭَﺭْﺩِﻱُّ
ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺝ 6 / ﺹ 164
( ﻭَﻳَﺤْﺮُﻡُ ( ﺟَﺰْﻣًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﺨْﺺٍ ) ﻗَﻄْﻌُﻪُ ( ﺃَﻱْ ﺑَﻌْﺾِ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ) ﻟِﻐَﻴْﺮِﻩِ ( ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻀْﻄَﺮِّﻳﻦَ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﻗَﻄْﻌَﻪُ ﻟِﻐَﻴْﺮِﻩِ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻪِ ﻗَﻄْﻊُ
ﺍﻟْﺒَﻌْﺾِ ﻟِﺎﺳْﺘِﺒْﻘَﺎﺀِ ﺍﻟْﻜُﻞِّ . ﺗَﻨْﺒِﻴﻪٌ ﻫَﺬَﺍ ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮُ ﻧَﺒِﻴًّﺎ، ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﺮُﻡْ ﺑَﻞْ ﻳَﺠِﺐُ ) ﻭَ ( ﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﻀْﻄَﺮٍّ ﺃَﻳْﻀًﺎ
ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﻄَﻊَ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻗِﻄْﻌَﺔً )ﻣِﻦْ ( ﺣَﻴَﻮَﺍﻥٍ ) ﻣَﻌْﺼُﻮﻡٍ، ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ( ﻟِﻤَﺎ ﻣَﺮَّ .
ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ﺹ 93
( ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻣﺎﺗﺖ ﻭﻓﻲ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺟﻨﻴﻦ، ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻤﺖ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﻭﺭﺟﻲ ﻋﻴﺸﻪ ﺑﻘﻮﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ ﺷﻖ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺃﻱ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺗﺠﻬﺰ
ﻭﺗﻮﺿﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﺮ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺮﺝ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻭﻗﻒ ﺩﻓﻨﻬﺎ ﻭﺟﻮﺑﺎً ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻮﺕ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺿﺮﺑﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻢ ﺣﻴﺎﺗﻪ
ﺩﻓﻨﺖ ﺣﺎﻻً، ﻗﺎﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ .
ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺎﺕ ﺝ 2 / ﺹ 97
ﻭﺃﻳﻀﺎً : ﻓﻼ ﻳﻤﺘﻨﻊ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻄﺒﻴﺐ ﻟﺴﻘﻲ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﺍﻟﻤﺮ، ﻭﻗﻄﻊ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﻤﺘﺄﻛﻠﺔ، ﻭﻗﻠﻊ ﺍﻷﺿﺮﺍﺱ ﺍﻟﻮﺟﻌﺔ، ﻭﺑﻂ
ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺎﺕ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﻤﻲ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻣﺎ ﻳﺸﺘﻬﻴﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻨﻪ ﺇﺫﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺍﻟﺘﻲ
ﻫﻲ ﺃﻋﻈﻢ ﻭﺃﺷﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺮﺍﻋﺎﺓ ﻣﻦ ﻣﻔﺴﺪﺓ ﺍﻹﻳﺬﺍﺀ
ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﺑﻄﺮﻳﻖ ﺍﻟﻠﺰﻭﻡ، ﻭﻫﺬﺍ ﺷﺄﻥ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺃﺑﺪﺍً
ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﻣﻌﺎﻧﻲ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺝ 2 / ﺹ 449
ﻗﻮﻟـﻪ: )ﻓﻼ ﻳﺼﺢّ ﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻟﻘﻠﻊ ﺳﻦ ﺻﺤﻴﺤﺔ ( ﻟﺤﺮﻣﺔ ﻗﻠﻌﻬﺎ ، ﻭﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻫﺎ ﻛﻜﻞ ﻋﻀﻮ ﺳﻠﻴﻢ ﻣﻦ ﺁﺩﻣﻲ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻲ
ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺎﺹ . ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻌﻠﻴﻠﺔ ﻓﻴﺼﺢّ ﺍﻻﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻟﻘﻠﻌﻬﺎ ﺇﻥ ﺻﻌﺐ ﺍﻷﻟﻢ؛ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ : ﺇﻥ ﻗﻠﻌﻬﺎ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻷﻟﻢ، ﻭﺃﻣﺎ
ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﻖّ ﻗﻠﻌﻬﺎ ﻓﻲ ﻗﺼﺎﺹ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻟـﻪ، ﻷﻥ ﺍﻻﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺼﺎﺹ ﻭﺍﺳﺘﻴﻔﺎﺀ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﺟﺎﺋﺰ . ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻷﺟﺮﺓ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻘﺘﺺ ﻣﻨﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻨﺼﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺟﻼﺩﺍً ﻳﻘﻴﻢ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻭﻳﺮﺯﻗﻪ ﻣﻦ ﻣﺎﻝ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ . ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻦُّ ﺻﺤﻴﺤﺎً ﻭﻟﻜﻦ
ﺍﻧﺼﺐّ ﺗﺤﺘﻪ ﻣﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﻧﺰﻟﺔ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ ﻻ ﺗﺰﻭﻝ ﺍﻟﻤﺎﺩﺓ ﺇﻻَّ ﺑﻘﻠﻌﻬﺎ، ﻓﺎﻷﺷﺒﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺫﺭﻋﻲ ﺟﻮﺍﺯ
ﺍﻟﻘﻠﻊ ﻟﻀﺮﻭﺭﺓ
ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ﺝ ﺹ 4 / ﺹ 342
ﻗﻠﻊ ﺍﻟﺴﻦ ﺍﻟﻮﺟﻌﺔ، ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺫﺍ ﺻﻌﺐ ﺍﻷﻟﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ : ﺇﻧﻪ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻷﻟﻢ . ﻭﻗﻄﻊ ﺍﻟﻴﺪ ﺍﻟﻤﺘﺄﻛﻠﺔ، ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺫﺍ
ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ : ﺇﻧﻪ ﻧﺎﻓﻊ، ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ، ﻓﻔﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﻭﺗﻔﺼﻴﻞ ﻳﺄﺗﻲ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺿﻤﺎﻥ ﺍﻟﻮﻻﺓ ﻣﻦ
ﻛﺘﺎﺏ » ﺍﻟﺠﻨﺎﻳﺎﺕ« ﻓﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻘﻠﻊ ﺃﻭ ﺍﻟﻘﻄﻊ، ﻓﺎﻻﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻟﻪ ﺑﺎﻃﻞ، ﻭﺣﻴﺚ ﻳﺠﻮﺯ، ﻳﺼﺢ ﺍﻻﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﻋﻠﻰ
ﺍﻷﺻﺢ
ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺝ 9 ﺹ 194 ﺟﺎﻣﻊ ﺍﻟﻔﻘﻪ
( ﻭَ ( ﻟِﻤَﻦْ ﺫُﻛِﺮَ ) ﻓَﺼْﺪٌ ﻭَﺣِﺠَﺎﻣَﺔٌ ( ﻭَﻧَﺤْﻮُﻫُﻤَﺎ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻋِﻠَﺎﺝٍ ﺳَﻠِﻴﻢٍ ﻋَﺎﺩَﺓً، ﺃَﺷَﺎﺭَ ﺑِﻪِ ﻃَﺒِﻴﺐٌ ﻟِﻨَﻔْﻌِﻪِ ﻟَﻪ
ُ
ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﺍﻟﻄﺒﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﺍﻟﻄﺒﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﺸﻨﻘﻄﻲ ﺹ 158-154
ﺍﻟﻤﺒﺤﺚ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻓﻰ ﺟﺮﺍﺣﺔ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ : ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﻘﺼﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﺧﺮﺍﺝ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﺑﻄﻦ ﺍﻣﻪ ، ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ
ﺑﻌﺪ ﺍﻛﺘﻤﺎﻝ ﺧﻠﻘﻪ ﺍﻭ ﻗﺒﻠﻪ ، ﻭﻻ ﺗﺨﻠﻮ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺍﻟﺪﺍﻋﻴﺔ ﺍﻟﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﺣﺎﻟﺘﻴﻦ : ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺍﻻﻭﻟﻰ : ﺍﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺿﺮﻭﺭﻳﺔ
ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﺨﺸﻰ ﻓﻴﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺣﻴﺎﺓ ﺍﻻﻡ ﺍﻭ ﺟﻨﻴﻨﻬﺎ ﺍﻭ ﻫﻤﺎ ﻣﻌﺎ – ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ - ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﻳﻌﺘﺒﺮ
ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻭﺟﺎﺋﺰﺍ ، ﻧﻈﺮﺍ ﻟﻤﺎ ﻳﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻧﻘﺎﺫ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ ﺍﻟﺬﻯ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﺟﻞّ ﻣﺎ ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺑﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ
– ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻗﺎﻝ - ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ : ﺍﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﺎﺟﻴﺔ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﺤﺘﺎﺟﻬﺎ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻰ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﺑﺴﺒﺐ
ﺗﻌﺬﺭ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻴﺔ ، ﻭﺗﺮﺗﺐ ﺍﻻﺿﺮﺍﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﻰ ﺩﺭﺟﺔ ﻻﺗﺼﻞ ﺍﻟﻰ ﻣﺮﺗﺒﺔ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ ﺍﻭ ﺍﻣﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﻼﻙ .
ﻭﻣﻦ ﺍﺷﻬﺮ ﺍﻣﺜﻠﺘﻬﺎ : ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﺍﻟﻘﻴﺼﺮﻳﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﻠﺠﺄ ﺍﻟﻴﻬﺎ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺧﻮﻓﻬﻢ ﻣﻦ ﺣﺼﻮﻝ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﻡ ﺍﻭ ﺍﻟﺠﻨﻴﻦ
ﺍﻭ ﻫﻤﺎ ﻣﻌﺎ ، ﺍﺫﺍ ﺧﺮﺝ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺑﺎﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺴﺒﺐ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻌﻮﺍﺋﻖ ﺍﻟﻤﻮﺟﺒﺔ ﻟﺘﻠﻚ ﺍﻻﺿﺮﺍﺭ ، ﻭﻣﻦ
ﺍﻣﺜﻠﺘﻬﺎ : ﺿﻴﻖ ﻋﻈﺎﻡ ﺍﻟﺤﻮﺽ ﺍﻭ ﺗﺸﻮﻫﻬﺎ ﺍﻭ ﺍﺻﺎﺑﺘﻬﺎ ﺑﺒﻌﺾ ﺍﻵﻓﺎﺕ ﺍﻟﻤﻔﺼﻠﻴﺔ ، ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺘﻌﺬﺭ ﺗﻤﺪﺩ ﻣﻔﺎﺻﻞ
ﺍﻟﺤﻮﺽ . ﺍﻭ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﺪﺍﺭ ﺍﻟﺮﺣﻢ ﺿﻌﻴﻔﺎ ، ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻻﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﻮﺟﺒﺔ ﻟﻠﻌﺪﻭﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻴﺔ ﺩﻓﻌﺎ ﻟﻠﻀﺮﺭ
ﺍﻟﻤﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ .
ﻭﺍﻟﺤﻜﻢ ﺑﺎﻟﺤﺎﺟﺔ ﻓﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﺭﺍﺟﻊ ﺍﻟﻰ ﺗﻘﺪﻳﺮ ﺍﻻﻃﺒﺎﺀ ، ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﺑﻮﺟﻮﺩﻫﺎ ، ﻭﻻ ﻳﻌﺪ
ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻭ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻣﺒﺮﺭﺍ ﻟﻔﻌﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﻃﻠﺒﺎ ﻟﻠﺘﺨﻠﺺ ﻣﻦ ﺁﻻﻡ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻴﺔ ، ﺑﻞ ﻳﻨﺒﻐﻰ
ﻟﻠﻄﺒﻴﺐ ﺍﻥ ﻳﺘﻘﻴﺪ ﺑﺸﺮﻁ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ، ﻭﺍﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﻓﻰ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻗﺪﺭﺗﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﻤﻞ ﻣﺸﻘﺔ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﺍﻟﻄﺒﻴﻌﻴﺔ
ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻳﻨﻈﺮ ﻓﻰ ﺍﻵﺛﺎﺭ ﺍﻟﻤﺘﺮﺗﺒﺔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ، ﻓﺎﻥ ﺍﺷﺘﻤﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﺿﺮﺍﺭ ﺯﺍﺋﺪﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺍﻟﻤﻌﺘﺎﺩ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﻭﺻﻠﺖ
ﺍﻟﻰ ﻣﻘﺎﻡ ﻳﻮﺟﺐ ﺍﻟﺤﺮﺝ ﻭﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ، ﺍﻭ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺍﻧﻬﺎ ﺗﺘﺴﺒﺐ ﻓﻰ ﺣﺼﻮﻝ ﺿﺮﺭ ﻟﻠﺠﻨﻴﻦ ، ﻓﺎﻧﻪ
ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻪ ﺍﻟﻌﺪﻭﻝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺠﺮﺍﺣﺔ ﻭﻓﻌﻠﻬﺎ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺑﺪﻳﻞ ﻳﻤﻜﻦ ﺑﻮﺍﺳﻄﺘﻪ ﺩﻓﻊ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﺿﺮﺍﺭ ﻭﺍﺯﺍﻟﺘﻬﺎ .....
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻋﻠﻢ

Selasa, 10 Maret 2015

HUKUM MEMUTUS JALAN RAHIM LEWAT OPERASI STERIL

HUKUM MEMUTUS JALAN RAHIM LEWAT OPERASI STERIL
-HUKUM KONSUMSI OBAT MENUNDA KEHAMILAN - BOLEH BILA ADA HAJAT UDZUR MENDIDIK ANAK
- HUKUM KONSUMSI OBAT MENUNDA KEHAMILAN TANPA HAJAT - MAKRUH
- HUKUM KONSUMSI OBAT ATAU OPERASI PUTUS RAHIM AGAR TIDAK HAMIL - HARAM..
Hukum menggunakan alat / obat untuk mencegah / menunda kehamilan,
وعبارته :اما استعمال ما يقطع الحبل من اصله فهو حرم بخلاف ما لايقطعه بل يبطئه مدة فلا يحرم بل ان كان لعذر كتربية ولد لم يكره ايضا والا كره ـ اهـ حاشية الشرقاوي ج ٢ ص ٣٣٢
Adapun menggunakan sesuatu (obat, dll:ed) yang dapat memutus kehamilan (tidak bisa hamil sama sekali) adalah haram, berbeda jika menggunakan sesuatu yang tidak sampai memutus kehamilan namun hanya menundanya sementara waktu maka yang demikian itu tidaklah haram, jika menundanya karena alasan udzur misalkan untuk mendidik anak maka boleh, jika tidak ada udzur maka makruh [Asy-Syarqowy Ii / 332]
Diskripsi masalah :
Tanteku berumur 43 tahun, sudah mempunyai anak lima, ketika melahirkan 3X anak terakhir dengan cara cesar.
Kemudian oleh dokter di sarankan memutus jalan menuju rahim (kandungan), bertujuan untuk menghindari efek yang fatal (hingga kematian) :
@. Resiko tinggi melahirkan pada usia 40 tahun ke atas.
@. Oprasi cesar yang di lakukan sampe 3X itu sangat tinggi kefatalannya pada oprasi cesar ke 4 nantinya.
Dengan pertimbangan itu, dan memang sudah parnah ada bukti hingga kematian, maka tante izin dengan suaminya sepakat memutus jalan itu.
Pertanya'an :
Bagaimanakah hukum memutus jalan kandungan dgn praktek di atas ?
Mohon jawabannya.karena ini problematika faktual.
Terima kasih sebelumnya.
JAWABAN
Memutus keturunan / KB dengan cara operasi rahim, hukumnya tidak diperbolehkan (haram), kecuali atas rekomendasi dokter yang ahli karena kehamilan dapat mengancam nyawanya maka boleh sesuai qoidah fiqih :
ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻌَﺎﺭَﺿَﺖْ ﺍﻟْﻤَﻔْﺴَﺪَﺗَﺎﻥِ ﺭُﻭْﻋِﻲَ ﺃَﻋْﻈَﻤُﻬُﻤَﺎ ﺿَﺮَﺭًﺍ ﺑِﺎﺭْﺗِﻜَﺎﺏِ ﺃَﺧَﻔِّﻬِﻤَﺎ ﻣُﻔْﺴِﺪَﺓً
Referensi :
إحياء علوم الدين للإمام الغزالي ج ٢ ص ٥٨ ـ ٦١ مكتبة أُوسها كلواركا سمارغ
النيات الباعثة على العزل خمس: الأولى: في السراري وهو حفظ الملك عن الهلاك باستحقاق العتاق وقصد استبقاء الملك بترك الإعتاق ودفع أسبابه ليس بمنهي عنه. الثانية: استبقاء جمال المرأة وسمنها دوام التمتع واستبقاء حياتها خوفاً من خطر الطلق، وهذا أيضاً ليس منهياً عنه. الثالثة: الخوف من كثرة الحرج بسبب كثرة الأولاد والاحتراز من الحاجة إلى التعب في الكسب ودخول مداخل السوء وهذا أيضاً غير منهي عنه، فإن قلة الحرج معين على الدين، نعم الكمال والفضل في التوكل والثقة بضمان الله حيث قال: {وَمَا مِنْ دَابَّةٍ في الأرْضِ إلاَّ عَلَى الله رِزْقُهَا} ولا جرم فيه سقوط عن ذروة الكمال وترك الأفضل، ولكن النظر إلى العواقب وحفظ المال وادخاره مع كونه مناقضاً للتوكل لا نقول إنه منهي عنه. الرابعة: الخوف من الأولاد الإناث لما يعتقد في تزويجهن من المعرة كما كانت من عادة العرب في قتلهم الإناث، فهذه نية فاسدة لو ترك بسببها أصل النكاح أو أصل الوقاع أثم بها لا بترك النكاح والوطء، فكذا في العزل، والفساد في اعتقاد المعرة في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلّم أشد، وينزل منزلة امرأة تركت النكاح استنكافاً من أن يعلوها رجل فكانت تتشبه بالرجال، ولا ترجع الكراهة إلى عين ترك النكاح. الخامسة: أن تمتنع المرأة لتعززها ومبالغتها في النظافة والتحرز من الطلق والنفاس والرضاع، وكان ذلك عادة نساء الخوارج لمبالغتهن في استعمال المياه، حتى كن يقضين صلوات أيام الحيض ولا يدخلن الخلاء إلا عراة، فهذه بدعة تخالف السنَّة، فهي نية فاسدة، واستأذنت واحدة منهن على عائشة رضي الله عنها لما قدمت البصرة فلم تأذن لها، فيكون القصد هو الفاسد دون منع الولادة
حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري ج ٤ ص ٤٤٧ دار الفكر
ويحرم استعمال ما يقطع الحبل من أصله كما صرح به كثيرون وهو ظاهر ا هـ وقول حج والذي يتجه إلخ لكن في شرح م ر في أمهات الأولاد خلافه وقوله وأخذه في مبادئ التخلق قضيته أنه لا يحرم قبل ذلك وعموم كلامه الأول يخالفه وقوله ويحرم ما يقطع الحبل من أصله أما ما يبطئ الحبل مدة ولا يقطعه من أصله فلا يحرم كما هو ظاهر بل إن كان لعذر كتربية ولد لم يكره أيضا وإلا كره ـ ا هـ ع ش علي
نهاية المحتاج ج ٧ ص ١٣٦
وَيَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا يَقْطَعُ الْحَبَلَ مِنْ أَصْلِهِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ كَثِيرُونَ, وَهُوَ ظَاهِرٌ ا هـ. وَقَوْلُ حَجّ وَاَلَّذِي يُتَّجَهُ إلَخْ لَكِنْ فِي شَرْحِ م ر فِي أُمَّهَاتِ الأَوْلادِ خِلافُهُ, وَقَوْلُهُ وَأَخْذِهِ فِي مَبَادِئ التَّخَلُّقِ قَضِيَّتُهُ أَنَّهُ لا يَحْرُمُ قَبْلَ ذَلِكَ وَعُمُومُ كَلامِهِ الأَوَّلَ يُخَالِفُهُ, وَقَوْلُهُ مِنْ أَصْلِهِ: أَيْ أَمَّا مَا يُبْطِلُ الْحَمْلَ مُدَّةً وَلا يَقْطَعُهُ مِنْ أَصْلِهِ فَلا يَحْرُمُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ, ثُمَّ الظَّاهِرُ أَنَّهُ إنْ كَانَ لِعُذْرٍ كَتَرْبِيَةِ وَلَدٍ لَمْ يُكْرَهْ أَيْضًا وَإِلا كُرِهَ
شرح مختصر خليل للخرشي ج ٤ ص ٢٢٥ ـ ٢٢٦
ـ ( تَنْبِيهٌ ) لَا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَفْعَلَ مَا يُسْقِطُ مَا فِي بَطْنِهَا مِنْ الْجَنِينِ وَكَذَا لَا يَجُوزُ لِلزَّوْجِ فِعْلُ ذَلِكَ , وَلَوْ قَبْلَ الْأَرْبَعِينَ وَقِيلَ يُكْرَهُ قَبْلَ الْأَرْبَعِينَ لِلْمَرْأَةِ شُرْبُ مَا يُسْقِطُهُ إنْ رَضِيَ الزَّوْجُ بِذَلِكَ انْتَهَى وَاَلَّذِي ذَكَرَهُ الشَّيْخُ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ أَنَّهُ يَجُوزُ قَبْلَ الْأَرْبَعِينَ وَلَا يَجُوزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَتَسَبَّبَ فِي قَطْعِ مَائِهِ وَلَا أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَا يُقَلِّلُ نَسْلَهُ قَالَهُ ح وَانْظُرْ هَلْ الْمَرْأَةُ كَذَلِكَ فِيهِمَا ; لِأَنَّ قَطْعَ مَائِهَا يُوجِبُ قَطْعَ نَسْلِهَا أَمْ لَا.
فتح الباري شرح صحيح البخاري ج ١٠ ص ٣٨١
وقال إمام الحرمين موضع المنع أنه ينزع بقصد الإِنزال خارج الفرج خشية العلوق ومتى فقد ذلك لم يمنع، وكأنه راعى سبب المنع فإِذا فقد بقي أصل الإِباحة فله أن ينزع متى شاء حتى لو نزع فأنزل خارج الفرج اتفاقاً لم يتعلق به النهي والله أعلم...
غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد بهامش بغية المسترشدين ص ٢٤٧ طبعة مكتبة الهداية
ـ (مسألة) أفتى ابن عبد السلام وابن يونس بأنه لا يحل للمرأة أن تستعمل دواء يمنع الحبل ولو برضا الزوج، قال السبكي: ونقل عن بعضهم جواز استقاء الأمة الدواء لإسقاط الحمل ما دام نطفة أو علقة، قال: والنفس مائلة إلى التحريم في غير الحامل من زنا فيهما، والتحليل مطلقاً عند الحنفية، والتحريم كذلك عند الحنابلة اهـ. وفي فتاوى القماط ما حاصله جواز استعمال الدواء لمنع الحيض، وأما العزل فمكروه مطلقاً إن فعله تحرزاً
أسنى المطالب فى شرح روض الطالب ج ٤ ص ٤٢١ مكتبة دار الكتب العلمية بيروت
ـ (وَلَوْ غَلَبَتْ السَّلَامَةُ فِي قَطْعِ السِّلْعَةِ, وَ) فِي (الْمُدَاوَاةِ) عَلَى خَطَرِهِمَا (جَازَ) ذَلِكَ لِأَنَّهُ إصْلَاحٌ بِلَا ضَرَرٍ (وَإِلا) بِأَنْ غَلَبَ التَّلَفُ أَوْ اسْتَوَى الْأَمْرَانِ أَوْ شَكَّ (فَلَا) يَجُوزُ ذَلِكَ لِأَنَّهُ جُرْحٌ يُخَافُ مِنْهُ فَكَانَ كَجُرْحِهِ بِلَا سَبَبٍ (وَيَتَخَيَّرُ) بَيْنَ الْقَطْعِ, وَعَدَمِهِ (فِي قَطْعِ الْيَدِ الْمُتَآكِلَةِ) أَوْ نَحْوِهَا (إنْ جَرَى الْخَطَرَانِ) خَطَرُ الْقَطْعِ, وَخَطَرُ التَّرْكِ (وَغُلِّبَتْ السَّلَامَةُ) فِي الْقَطْعِ عَلَى خَطَرِهِ, وَإِنْ اسْتَوَى الْخَطَرَانِ أَوْ زَادَ خَطَرُ الْقَطْعِ بِخِلَافِ مَا إذَا لَمْ تُغَلَّبْ السَّلَامَةُ لَا يَجُوزُ الْقَطْعُ, وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ إطْلَاقُ الْمُهَذَّبِ مَنْعَ الْقَطْعِ, وَلَوْ كَانَ الْخَطَرُ فِي التَّرْكِ دُونَ الْقَطْعِ أَوْ لَا خَطَرَ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَلَهُ الْقَطْعُ كَمَا فُهِمَ بِالْأُولَى, وَبِهِ صَرَّحَ فِي الْأَصْلِ فِي الْأُولَى, وَكَذَا لَوْ كَانَ الْخَطَرُ فِي الْقَطْعِ دُونَ التَّرْكِ, وَغُلِّبَتْ السَّلَامَةُ كَمَا فُهِمَ مِنْ قَطْعِ السِّلْعَةِ وَالْمُدَاوَاةِ, وَلَوْ قَالَ عَقِبَ قَطْعِ السِّلْعَةِ أَوْ عُضْوٍ مُتَآكِلٍ لَا غِنَى عَنْ قَوْلِهِ, وَيَتَخَيَّرُ إلَى آخِرِهِ, وَلَشَمَلَ مَا لَوْ كَانَ الْخَطَرُ فِي الْقَطْعِ دُونَ التَّرْكِ, وَغُلِّبَتْ السَّلَامَةُ
Al-Bajuri II / 93
ﻭَﻛَﺬَﺍ ﺍِﺳْﺘِﻌْﻤَﺎﻝُ ﺍْﻹِﻣْﺮَﺃَﺓِ ﺍﻟﺸَّﻲْﺀَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺒْﻄِﺊُ ﺍﻟْﺤَﺒْﻞَ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻌُﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﻠِﻪِ ﻓَﻴُﻜْﺮَﻩُ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﻭَّﻝِ ﻭَﻳُﺤْﺮَﻡُ ﻓِﻲﺍﻟﺜَّﻨِﻲ ﻭَﻋِﻨْﺪَ ﻭُﺟُﻮْﺩِ ﺍﻟﻀَّﺮُﻭْﺭَﺓِ ﻓَﻌَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﺎﻋِﺪَﺓِ ﺍﻟْﻔِﻘَﻬِﻴَّﺔِ ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻌَﺎﺭَﺿَﺖْ ﺍﻟْﻤَﻔْﺴَﺪَﺗَﺎﻥِ ﺭُﻭْﻋِﻲَ ﺃَﻋْﻈَﻤُﻬُﻤَﺎ ﺿَﺮَﺭًﺍ ﺑِﺎﺭْﺗِﻜَﺎﺏِ ﺃَﺧَﻔِّﻬِﻤَﺎ ﻣُﻔْﺴِﺪَﺓً ـ ﺇﻫـ ﺍﻟﺒﺠﻮﺭﻯ ﻋﻠﻰ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻘﺮﻳﺐ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ج ٢ ص ٩٣
Demikian halnya wanita yang menggunakan sesuatu (seperti obat atau alat kotrasepsi dll :ed) yang dapat memperlambat kehamilan, hal ini hukumnya makruh, sedangkan apabila sampai memutus keturunan maka hukumnya haram, dan ketika darurat maka sesuai dengan qaidah fiqhiyah “Ketika terjadi dua mafsadat (bahaya) maka hindari mafsadat yang lebih besar dengan melakukan mafsadat yang paling ringan”.
[Al-Bajuri II / 93]

Rabu, 21 Januari 2015

Doa penghilang kista dan kangker

DOA MUJARRAB....
900 Tahun Dulu Sebelum Era Wali Songo
" PENGHILANG KISTA, TUMOR DAN PENYAKIT DALAM TANPA OPERASI "
DIBACA: 37 KALI ( SEJUMLAH HURUF DOA INI ) SEHARI SEMALAM TERBAIK SEBELUM TIDUR DAN SELESAI SHOLAT HAJAT.
Pengarang: Al-Imam, Abul `Abbaas, Ahmad bin `Aliy Al-Buuniy (wafat: 622).
( MUNAJAT BERBISIK KEPADA ALLAH SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA )
" Bila Dokter Sudah Kesulitan Menyembuhkan, maka bacalah Doa ini '
DOA SYAIR " JALJALUT" BAIT KE 23
" WA KHOLLISNI MIN KULLI HAULIN WA SYIDDATIN, FA ANTA ROJAA-UL 'ALAMINA WALAU THOGHOT "
Artinya : Ya Allah, Selamatkan Aku Dari Kesusahan dan amat sulitnya Cobaan ( penyakit ), Hanya Engkaulah ya allah, Yang Diharapkan semua penghuni Alam Semesta, walau manusia ini melampaui batas sering Berbuat Dosa kepadamu "
Ini Doa Arabnya:
"وخلصني من كل هول وشدة #
فأنت رجاء العالمين ولو طغت "
من وقع في شدة أو نكبته مصيبة فليواظب على قراءة هذا البيت سبعا وثلاثين مرة في كل يوم فإن الله يخلصه من الشدائد وينجيه من المصائب ويخرجه من ظلمات الكروب
المصدر: مملكة الشيخ الدكتور أبو الحارث للروحانيات والفلك - من قسم: مملكة الفوائد والمجربات الصحيحة