Advertisement

Pendidikan Islam Asia timur-Indonesia

MAKALAH PERBANDINGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ASIA TIMUR DAN INDONESIA. 


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang persamaan derajat dan pelapisan sosial. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW yang kita nanti-nantikan syafaatnya kelak. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata Kuliah Perbandingan Pendidikan Islam.

Dalam penyelesaian makalah ini, kami mendapatkan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sepantasnya kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak H.M. Saifullah, Lc,M.Pd.I. selaku dosen, serta teman-teman yang sudah memberikan konstribusinya dalam Penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari dalam penyusunan malakah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang proses sosialisasi dalam pendidikan.

Gresik, 28 November 2025

                                                                            Penulis


=======================

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan Islam di kawasan Asia menunjukkan variasi yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan demografis masing-masing negara. Keberadaan umat Muslim sebagai mayoritas atau minoritas turut menentukan bentuk dan orientasi lembaga pendidikan Islam, termasuk tingkat pengakuan negara terhadap institusi keagamaan. Karena itu, kajian perbandingan menjadi penting untuk memahami bagaimana konteks yang berbeda melahirkan sistem pendidikan Islam yang beragam dalam tujuan, struktur, dan model implementasinya.

Indonesia menyajikan contoh pendidikan Islam yang terintegrasi secara kuat dengan sistem pendidikan nasional. Status Muslim sebagai mayoritas dan adanya dukungan legal membuat madrasah, pesantren, dan pendidikan agama di sekolah umum berkembang secara formal dan terstruktur. Berbeda dengan itu, India menghadirkan pola ganda antara pendidikan agama tradisional dan pendidikan modern bernuansa Islam, yang berkembang sebagai respons terhadap posisi umat Muslim sebagai minoritas besar dengan tantangan sosial yang kompleks. Kedua negara ini menunjukkan bagaimana mayoritas atau minoritas memengaruhi arah kebijakan dan kelembagaan pendidikan Islam.

Kondisi yang lebih berbeda tampak di negara-negara Asia Timur seperti Cina, Korea Selatan, dan Hong Kong, di mana komunitas Muslim sangat kecil dan berada dalam lingkungan yang cenderung sekuler. Keterbatasan ruang gerak menjadikan pendidikan Islam berlangsung melalui kegiatan komunitas dan lembaga non-formal seperti masjid atau Islamic center, dengan fokus utama pada pelestarian identitas keagamaan. Perbedaan mencolok antara Indonesia, India, dan kawasan Asia Timur inilah yang menjadi dasar pentingnya kajian perbandingan untuk memahami dinamika pendidikan Islam dalam beragam konteks Asia.

 Rumusan Masalah

Bagaimana karakteristik dan bentuk pelaksanaan pendidikan Islam di negara-negara Asia Timur (Cina, Korea Selatan, dan Hong Kong), India, dan Indonesia?

Apa saja persamaan dan perbedaan sistem pendidikan Islam antara negara-negara Asia Timur dan India jika dibandingkan dengan Indonesia?

Bagaimana potensi adaptasi model pendidikan Islam dari India dan Asia Timur untuk diterapkan dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia?

 Tujuan Penulisan

Untuk mendeskripsikan karakteristik serta bentuk pelaksanaan pendidikan Islam di negara-negara Asia Timur, India, dan Indonesia.

Untuk menganalisis persamaan dan perbedaan sistem pendidikan Islam antara kawasan Asia Timur dan India dibandingkan dengan Indonesia.

Untuk mengidentifikasi dan mengkaji potensi adaptasi model pendidikan Islam dari India dan Asia Timur yang relevan bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

=====================

BAB II

PEMBAHASAN

Karakteristik dan bentuk pelaksanaan pendidikan Islam di negara-negara Asia Timur (Cina, Korea Selatan, dan Hongkong), India, dan Indonesia

Pendidikan Islam di Asia menunjukkan keragaman yang dipengaruhi oleh kondisi demografis dan politik. Di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, pendidikan Islam terintegrasi dalam sistem nasional dan mendapat dukungan negara. Sementara itu, di negara dengan Muslim minoritas seperti India, Hong Kong, Korea Selatan, dan Cina, pendidikan Islam lebih berperan menjaga identitas melalui lembaga-lembaga mandiri yang bersifat adaptif. Dengan demikian, status mayoritas–minoritas sangat menentukan bentuk, tujuan, dan model pelaksanaan pendidikan Islam di setiap wilayah.

Sistem Pendidikan Islam di Indonesia

Indonesia memiliki sistem pendidikan Islam yang paling terstruktur dan terintegrasi di dunia, didukung oleh status Muslim sebagai mayoritas dan pengakuan konstitusional terhadap agama.

Secara institusional, pendidikan Islam di Indonesia berada di bawah dua kementerian utama, yang pertama yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengatur mata pelajaran PAI di sekolah umum, yang kedua yaitu Kementerian Agama yang membawahi seluruh sistem madrasah dan pesantren. Lembaga-lembaga pendidikan Islam juga memiliki status hukum yang setara dengan sekolah umum, sehingga lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dalam melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.

Sistem Madrasah (Pendidikan Formal), Madrasah adalah sistem sekolah formal yang menggabungkan kurikulum nasional (sains, matematika, bahasa) dengan kurikulum agama intensif (seperti Fiqih, Akidah Akhlak, Tafsir, Hadis, dan Bahasa Arab).

Jenjang Madrasah: Meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs/SMP), dan Madrasah Aliyah (MA/SMA). Kemenag secara ketat mengatur standar kompetensi lulusan dan kurikulumnya.

Madrasah Kejuruan (MAK): Ada juga Madrasah Aliyah Kejuruan yang mengintegrasikan ilmu keagamaan dengan keterampilan teknis spesifik, menunjukkan upaya untuk mencetak lulusan yang siap kerja dan berakhlak.

Sistem Pesantren (Pendidikan Non-Formal & Informal), Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional yang menjadi ciri khas Indonesia. Karakteristik utamanya adalah asrama, ketergantungan pada Kiai sebagai figur sentral, dan kurikulum yang fleksibel.

Pesantren Salafiyah: Berfokus eksklusif pada penguasaan kitab kuning (literatur klasik), seringkali menggunakan metode Sorogan (santri membaca di hadapan Kiai) dan Bandongan (Kiai membaca dan santri menyimak).

Pesantren Modern: Mengadopsi sistem kelas formal dan menambahkan kurikulum ilmu umum, bahkan menyelenggarakan ujian nasional, seperti Pondok Modern Darussalam Gontor yang menjadi role model pesantren modern.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN), PTKIN seperti UIN (Universitas Islam Negeri), IAIN, dan STAIN, tidak hanya mengajarkan teologi tetapi juga sains, humaniora, dan kedokteran, bertujuan untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dalam paradigma Islam.

Sistem Pendidikan Islam di India

Sebagai negara dengan populasi Muslim minoritas yang besar dan sejarah peradaban Islam yang panjang, pendidikan Islam di India ditandai oleh dikotomi yang mendalam antara sistem agama dan sistem sekuler. Pendidikan Islam di India berjalan melalui dua jalur yang relatif berdiri sendiri :

Jalur Deeni Talim (Pendidikan Agama): Dilakukan di Madrasah tradisional yang berfokus pada ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab/Persia.

Jalur Asri Talim (Pendidikan Modern): Dilakukan di sekolah atau universitas umum, namun ada universitas Muslim khusus yang didirikan untuk menyediakan pendidikan sekuler dengan nuansa Islam, seperti Aligarh Muslim University (AMU).

Negara india juga memakai sistem Madrasah Tradisional, madrasah-madrasah seperti Darul Uloom Deoband dan Nadwatul Ulama, seringkali beroperasi dengan otonomi penuh dari pemerintah pusat, baik dari segi pendanaan (swadaya/donasi) maupun kurikulum.

Fokus Pendidikannya yaitu pengajaran yang berpusat pada pemahaman mendalam atas Fiqih (Hanafi), Hadis (Sihah Sittah), Logika, dan Metafisika, mengikuti sistem Dars-e Nizami (silabus klasik) yang menekankan pada penalaran rasional dan retorika.

Metode pengajaranya sangat didominasi oleh kuliah (ceramah) dan diskusi (Munazarah) intensif, dengan tujuan melahirkan ulama dan muftis (pemberi fatwa).

Sistem Pendidikan Tinggi Islam Modern juga termasuk sistem Pendidikan islam di India, Institusi seperti Jamia Millia Islamia (JMI) didirikan untuk menjembatani jurang antara pendidikan agama dan modern. Institusi-institusi ini menawarkan jurusan di bidang teknik, kedokteran, dan seni, sambil memastikan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman moral dan etika Islam yang kuat.

Sistem Pendidikan Islam di Asia Timur (Cina (RRT), Korea Selatan, Hongkong).

Keberadaan Muslim sebagai minoritas sangat kecil di Cina, Korea Selatan, dan Hong Kong dengan berbagai bentuk tekanan dan keterbatasan, menjadikan pendidikan Islam di Asia Timur berlangsung terutama melalui aktivitas komunitas dan lembaga non-formal. Pendidikan Islam di kawasan ini umumnya berpusat pada Islamic Center atau masjid, dengan bentuk penyelenggaraan yang masih terbatas secara formal. Fokus utamanya bukan menghasilkan ulama, tetapi menjaga identitas keislaman komunitas di tengah lingkungan yang sangat sekuler.

Cina (RRT): Sistem Pendidikan di Cina sangat dipengaruhi oleh kebijakan negara yang ketat.

Sistem Pendidikan Masjid (Sishu): Pendidikan agama umumnya terbatas pada sekolah-sekolah komunitas yang melekat pada Masjid, seperti yang dijalankan oleh kelompok etnis Hui. Sekolah-sekolah ini mengajarkan dasar-dasar bahasa Arab, hafalan Al-Qur'an, dan Fiqih dasar.

Pendidikan Tinggi: Beberapa institusi (seperti China Islamic College di Beijing) didirikan, tetapi kurikulum dan aktivitasnya berada di bawah pengawasan dan arahan yang sangat ketat dari pemerintah.

Korea Selatan dan Hong Kong: Pendidikan Islam di kedua negara tersebut sangat bergantung pada organisasi komunitas dan sukarela.

Pendidikan Akhir Pekan (Weekend Islamic School): Ini adalah bentuk pelaksanaan yang paling umum. Anak-anak yang bersekolah di sekolah negeri (sekuler) pada hari kerja, akan mengikuti kelas agama pada hari Sabtu/Minggu di Masjid (misalnya, Masjid Pusat Seoul atau Islamic Centre di Tsim Sha Tsui, Hong Kong).

Fokus Kurikulum: Kurikulum sangat praktis dan berorientasi pada Fardhu 'Ain (kewajiban individual), termasuk cara salat, puasa, kisah nabi, dan akhlak. Media pengajaran sering menggunakan bahasa lokal (Korea/Kanton) dan bahasa Inggris sebagai perantara.

Kurangnya Dukungan Formal: Tidak ada sistem Madrasah yang setara dengan Indonesia atau India, pendidikan agama formal harus diupayakan secara swadaya oleh komunitas dan tidak mendapatkan pengakuan setara dari kementerian pendidikan setempat.

 Perbandingan Persamaan dan Perbedaan Sistem Pendidikan Islam di Negara Asia Timur, India dengan Indonesia

Perbedaan status demografi dan politik Muslim di Indonesia (mayoritas), India (minoritas besar), dan Asia Timur (minoritas kecil) menghasilkan persamaan dan perbedaan yang mendasar dalam empat aspek kunci pendidikan Islam: kurikulum, kelembagaan, metode pembelajaran, dan peran pemerintah.

Persamaan dan Perbedaan Kurikulum 

Persamaan Kurikulum: Secara filosofis, kurikulum di semua negara memiliki kesamaan mutlak yaitu menjadikan Al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber primer ajaran. Semua sistem, dari Madrasah Indonesia hingga kelas akhir pekan di Hong Kong, wajib mengajarkan Fardhu 'Ain (kewajiban individu) seperti tata cara ibadah dan dasar-dasar akidah.

Perbedaan Kurikulum (Integrasi): Perbedaan mendasar terletak pada integrasi ilmu umum. Di Indonesia, kurikulum Madrasah dan PTKIN didesain untuk mengintegrasikan ilmu agama dan umum secara seimbang (sekolah umum dengan ciri khas Islam). Sebaliknya, India menunjukkan dualisme yang kuat; kurikulum Madrasah tradisional fokus 100% pada ilmu klasik (Dars-e Nizami), sementara ilmu umum diajarkan di jalur yang berbeda (sekolah dan universitas modern). Kurikulum di Asia Timur bersifat minimalis, hanya fokus pada dasar-dasar agama untuk survival identitas, dengan asumsi ilmu umum didapat sepenuhnya dari sekolah negeri yang sekuler.

Persamaan dan Perbedaan Kelembagaan

Persamaan Kelembagaan: Institusi di semua wilayah menjadikan Masjid atau Islamic Center sebagai pusat komunal dan pendidikan non-formal. Fungsi ini sangat vital, terutama bagi komunitas minoritas yang mengandalkan pusat-pusat ini untuk transmisi agama antar-generasi.

Perbedaan Kelembagaan (Formalitas): Indonesia memiliki hierarki kelembagaan formal yang lengkap dan diakui negara (Madrasah, Pesantren, PTKIN) di bawah naungan Kemenag, yang menjamin standardisasi dan akses yang luas. India dicirikan oleh otonomi dan fragmentasi, dengan Madrasah tradisional yang beroperasi secara independen dan swadaya, sehingga standardisasi sulit dicapai, meskipun memiliki institusi modern yang kuat seperti Aligarh Muslim University. Sementara itu, di Asia Timur, kelembagaan formal pendidikan Islam hampir tidak ada, pendidikan beroperasi melalui sekolah komunitas yang berpusat di Masjid dan tidak mendapatkan pengakuan formal dari pemerintah.

Persamaan dan Perbedaan Metode Pembelajaran

Persamaan Metode: Metode tradisional seperti hafalan untuk Al-Qur'an dan Hadis, serta ceramah atau kuliah oleh guru, masih menjadi bagian tak terpisahkan dari pengajaran klasik di semua sistem.

Perbedaan Metode (Pendekatan): Di Indonesia, terdapat perpaduan metode klasikal di Madrasah dan metode tradisional Sorogan/Bandongan di Pesantren, dengan dorongan kuat untuk mengadopsi metode pembelajaran aktif dan teknologi. Madrasah di India sangat mengutamakan metode diskusi interpretatif (Munazarah) yang intensif dan konservatif, berfokus pada analisis teks mendalam, dengan sedikit adopsi teknologi modern. Di Asia Timur, metode yang dominan adalah pragmatis dan bilingual (menggunakan bahasa lokal/Inggris) dalam format kelas akhir pekan, berorientasi pada pengajaran praktik ibadah dan etika secara komunal.

Persamaan dan Perbedaan Peran Pemerintah

Persamaan Peran: Pemerintah di ketiga wilayah memiliki peran dalam regulasi, meskipun bentuk regulasi tersebut berbeda.

Perbedaan Peran (Kontrol dan Fasilitasi): Peran Pemerintah Indonesia adalah Pro-Aktif, Fasilitatif, dan Sponsor Utama. Pemerintah secara aktif mendanai dan mengawasi kurikulum formal (Madrasah dan PTKIN), menjadikan pendidikan Islam sebagai tanggung jawab negara. Sebaliknya, Pemerintah India bersikap Akomodatif Terbatas, memberikan pengakuan pada institusi modern tetapi hampir tidak mendanai Madrasah tradisional, yang dibiarkan otonom dan swadaya. Pemerintah di Asia Timur bersikap Apatis (Korea/Hong Kong) terhadap pendidikan non-formal komunal, atau Kontrol Ketat (di Cina) yang membatasi konten dan aktivitas keagamaan, dengan pendanaan yang seluruhnya bergantung pada komunitas.

 Potensi Adaptasi Sistem Pendidikan Islam dari India dan Asia Timur di Indonesia

Meskipun sistem pendidikan Islam Indonesia sangat maju dan terintegrasi, pengalaman negara-negara minoritas memberikan pelajaran berharga mengenai kemandirian kelembagaan, ketahanan identitas, dan efisiensi pendidikan dasar di tengah lingkungan sekuler atau tekanan politik. Potensi adaptasi ini tidak bertujuan menggantikan, melainkan memperkaya dan menambal celah yang ada dalam sistem Indonesia.

Potensi Adaptasi dari India :

Implementasi Otonomi Madrasah Tradisional (Studi Kasus Darul Uloom Deoband). 

Madrasah India seperti Darul Uloom Deoband adalah contoh sukses dari kemandirian finansial dan keilmuan total dari negara. Sistem ini memprioritaskan pemahaman mendalam tentang ilmu-ilmu klasik (tahqiq), yang seringkali terkikis di Pesantren Indonesia yang mulai terintegrasi penuh dengan kurikulum nasional.

Bentuk Implementasi di Indonesia yaitu Pemerintah Indonesia perlu secara formal mengakui jalur otonom murni bagi sejumlah Pesantren Salafiyah yang menolak kurikulum umum. Pengakuan ini disertai dengan jaminan bahwa lulusan Pesantren tersebut diakui sebagai otoritas keilmuan agama (ulama) melalui sistem pengujian khusus (misalnya, di bawah otoritas Majelis Ulama Indonesia atau PBNU/PP Muhammadiyah), bukan melalui ijazah formal. Ini akan memastikan keberlanjutan tradisi keilmuan klasik yang mendalam.

Potensi Adaptasi dari Negara Asia Timur. 

Pengalaman Muslim minoritas di Hong Kong dan Korea Selatan dalam mempertahankan identitas agama di lingkungan perkotaan yang sangat sekuler dan modern menawarkan model implementasi pendidikan Islam yang pragmatis, efisien, dan berorientasi pada komunitas.

Penyelenggaraan Weekend Islamic School yang Profesional 

Karena sebagian besar anak Muslim di Asia Timur bersekolah di sekolah sekuler, pendidikan agama dilakukan secara efisien di akhir pekan dengan fokus pada Fardhu 'Ain. Indonesia menghadapi masalah serupa, di mana anak-anak di sekolah umum hanya mendapatkan PAI minimal.

Bentuk Implementasinya di Indonesia yaitu Standardisasi dan Profesionalisme Sekolah Akhir Pekan. Di kota-kota besar Indonesia, Kemenag atau MUI dapat membuat modul kurikulum Sekolah Akhir Pekan (SAK-Islami) yang terstandar dan wajib bagi anak-anak sekolah umum. Pelaksanaannya dapat diserahkan kepada Masjid Raya atau Islamic Center lokal. Tujuannya adalah memastikan setiap anak Muslim mendapatkan pendidikan dasar agama yang memadai dan komprehensif, terlepas dari kualitas PAI di sekolah formal mereka.

Penguatan Media dan Komunikasi Islam Digital 

Komunitas Muslim Asia Timur sangat adaptif dalam menggunakan media modern untuk menyebarkan informasi agama. Hal ini penting untuk melawan disinformasi dan radikalisme.

Bentuk Implementasinya di Indonesia: Platform Pendidikan Agama Konten Pendek dan Kontekstual. Pesantren dan PTKIN dapat mengadopsi efisiensi komunikasi komunitas minoritas. Implementasinya adalah mengembangkan pusat konten digital resmi yang menghasilkan materi keagamaan kontekstual dan berbasis Fardhu Kifayah baru (seperti etika digital, Fiqih transaksi e-commerce, atau dakwah melalui media sosial), menargetkan generasi muda perkotaan yang minim waktu luang.

======================

BAB III

PENUTUP

 Kesimpulan

Pertama, pendidikan Islam di Indonesia, India, dan negara-negara Asia Timur menunjukkan variasi yang kuat sesuai kondisi demografis, politik, dan sosial masing-masing wilayah. Indonesia menampilkan model pendidikan Islam yang paling terintegrasi melalui madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam yang secara hukum setara dengan pendidikan umum. Sementara itu, India mempertahankan dualisme antara madrasah tradisional yang berfokus pada ilmu-ilmu klasik dan institusi modern yang menggabungkan nilai Islam dengan ilmu sekuler. Di Asia Timur, pendidikan Islam berkembang secara komunal, non-formal, dan berbasis masjid karena keberadaan Muslim sebagai minoritas kecil. Variasi ini menegaskan bahwa status mayoritas–minoritas sangat menentukan bentuk, orientasi, dan tujuan pendidikan Islam di setiap wilayah.

Kedua, perbandingan sistem pendidikan Islam dari tiga kawasan tersebut menunjukkan persamaan dalam hal fondasi teologis yaitu Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama serta peran masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam integrasi kurikulum, tingkat formalitas kelembagaan, metode pembelajaran, dan peran pemerintah. Indonesia memiliki sistem paling mapan dan terstandar, India menunjukkan kemandirian madrasah tradisional yang kuat namun kurang terintegrasi, sedangkan Asia Timur tidak memiliki struktur formal dan bertumpu pada sekolah akhir pekan serta aktivitas komunitas. Perbedaan-perbedaan ini mencerminkan respons unik terhadap kondisi sosio-politik di masing-masing negara.

Ketiga, pengembangan pendidikan Islam di Indonesia dapat diperkaya melalui adaptasi selektif dari praktik India dan Asia Timur. Dari India, Indonesia dapat mengambil model otonomi madrasah tradisional sebagai upaya menjaga kedalaman ilmu-ilmu klasik. Sementara dari Asia Timur, Indonesia berpotensi mengembangkan sistem Sekolah Akhir Pekan yang lebih profesional serta penguatan literasi digital keagamaan sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat urban modern. Adaptasi ini bukan untuk menggantikan sistem yang sudah mapan di Indonesia, tetapi untuk memperkuat fleksibilitas, ketahanan identitas, dan efektivitas pendidikan Islam di era global.

====================

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, I. (2018). Islamic Education in South Asia: Heritage, Challenges and Future Directions. London: Sage Publications, hlm. 102.

Ali, S. M. (2018). Islamic Education in Urban Context: A Study of Hong Kong. Hong Kong: City University Press, hlm. 45, 50.

Darussalam Gontor. (2019). Gontor and Its Modern Islamic Education System. Ponorogo: Gontor Press, hlm. 110.

Dhofier, Z. (2011). Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES, hlm. 85–88.

Gladney, D. C. (2017). Muslims in China: The Hui Community and the Educational Challenges. London: Routledge, hlm. 98, 105.

Haidar Putra Daulay & Nurgaya Pasa. (2014). “Kebijakan Pendidikan Agama Islam.” Jurnal Al-Munir, Vol. 6, No. 02, hlm. 177.

Hasan, K. M., & Wong, S. Y. (2019). “The Role of Islamic Education in Maintaining Muslim Identity in East Asia.” Asian Education and Development Studies, Vol. 8, No. 2, hlm. 146.

Hidayat, A. (2022). “Model Kurikulum Weekend School Islami untuk Anak Perkotaan.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 15, No. 4, hlm. 55–57.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Islam di Madrasah. Jakarta: Ditjen Pendis, hlm. 12.

Lee, S. K. (2021). “The Adaptation of Islam in South Korea: Education and Community Building.” Journal of Muslim Minority Affairs, Vol. 41, No. 1, hlm. 67–68.

Ma, L. (2018). Digitalizing Da’wah: Muslim Minorities and Social Media in China. New York: Columbia University Press, hlm. 115.

Muhsin, M. (2018). Pendidikan Islam: Filosofi dan Implementasinya. Jakarta: Kencana, hlm. 55.

Rina, S. (2020). “Islamic Education in Hong Kong: Adaptation and Resilience.” Journal of Muslim Minorities Affairs, Vol. 40, No. 3, hlm. 320–322.

Surawardi, S. (2012). Pendidikan Islam di Mesir, India, dan Pakistan. OJS STAI Bumi Silampari, hlm. 52–53.

Syafi'i, M. (2021). “Konten Dakwah Kontekstualisasi Fiqih Muamalah Digital.” Jurnal Komunikasi Islam, Vol. 11, No. 1, hlm. 65–68.

Tanenji, T. (2022). “Sejarah Rekonstruksi Pendidikan Islam di India.” Ad-DA’WAH, Vol. 1, No. 1, hlm. 104.

Tsalis, A. A., dkk. (2020). “Analisis Pendidikan Islam di India dan Perbandingannya dengan Pendidikan di Indonesia.” Jurnal STIQ Amuntai, Vol. 4, No. 2, hlm. 36–37.

Wahid, M. (2020). “Rezim Sertifikasi Ulama dan Otonomi Keilmuan Pesantren Salafiyah.” Jurnal Kajian Pendidikan Islam, Vol. 9, No. 2, hlm. 15–18.

Zulaiha, S., & Puspita, E. (2021). “Perkembangan Islam dan Pendidikan Agama Islam di India.” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kearifan Lokal, Vol. 1, No. 2, hlm. 11–13.

Pantai terus makalah dan skripsi yang baru hanya di sini => GUDANG MAKALAH DAN SKRIPSI

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Advertisement

Advertisement