Kalam Hikmah

Rabu, 26 November 2014

Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial



BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG

Iman dan islam merupakan dua hal penting yang tak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya.  Iman adalah membenarkan segala sesuatu yang dibawa olehnabi muhammad saw. Yakni meyakini kebenaran  segala sesuatu yang dibawah oleh Nabi itu berasal dariAllah Swt dengan keyakinan yang mantap disertai dengan pengakuan dalam hati. Iman tersebut seperti iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para utusan-Nya, iman kepada hari akhir (kiamat), iman kepada Qodho’ dan Qodhar,  serta iman terhadap kefardluan melak sanakan sholat dan ibadah ibadah lainya seperti zakat, puasa, melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu , serta keharaman membunuh seseorang yang ma’sum, zina dan lain sebagainya.  Sedangkan islam  adalah tunduk dan patuh secara dhohir dan batin kepada segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi. Maka iman dan islam tidak bisa terlepas satu sama lain. Setiap orang mu’min adalah muslim dan juga sebaliknya karena seseorang yang membenarkan terhadap Nabi harustunduk kepada segala sesuatu yang dibawanya. Dan setiap orang yang tunduk pada sesuatu  pasti membenarkan sesuatu tersebut. Sehinggaiman dan islam itu tdak bisa dipisahkan. [1]
Demikianlah pengertian dari iman dan islam. Walaupun demikian seorang muslim belum dikatakan sebagai seorang muslim yang sempurna apabila keimanannya juga belum sempurna. Karena iman sebagaimana pengertian di atas tak semudah teori yang disampaikan oleh para ulama dalam pelaksanaannya. Iman sendiri mempunyai banyak cabang yang harus dipenuhi untuk menyempurnakan keimanan. Sehingga kualitas keislaman seseorang itu diukur dari kadar keimanannya. Apabila kadar keimanan seseorang itu rendah  maka bisa dipastika kualitas keislamannya juga rendah.  Sehingga diperlukan kajian tentang cabang cabang iman secara mendalam yang bersumber dari hadits hadits soheh, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial karena manusia adalah makhluk sosial. Sehingga kajian tentang realisasi iman dalam kehidupan sosial berdasarkan hadits-hadits shohih sangat diperlukan.
2.      RUMUSAN MASALAH
A.     Bagaimana merealisasikan iman dalam kehidupan sosial?
                                                                 
BAB II
PEMBAHASAN

A.     REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
Kajian tentang realisasi iman dalam kehidupan sosial tidak bisa dilepaskan dari cabang-cabang iman yang telah dikemukakan para ulama’ yang bersumber dari hadist-hadits shohih. Setidaknya, kajian ini terkumpul beberapa poin sebagai berikut:


I.            MENCINTAI SESAMA MUSLIM ADALAH SBAGIAN DARI IMAN
Islam yang ajaran ajaranya bersifat humanis menepatkan manusia pada tempat yang paling tinggi mengajarkan untuk mencintai sesama muslim sehingga dikatakan belum sempurna iman seorang muslim sebelum dia mencintai sesama muslim sebagai mana di sebutkan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan sahabat Anas dalam kitab Shohih Bhukhori :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: " لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ "

Artinya: “tidak sempurna iman seorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”
Yang dimaksud tidak beriman ini adalah kekurang dalam keimanannya, sehingga muslim yang seperti ini tidak dikatakan hilang imannya akan tetapi tidak sempurna imannya sebagaimana keterangan dalam fathul Bari. Juga diriwayatkan oleh imam Muslim :
وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ  حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، " لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ، حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ، أَوَ قَالَ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Senada dengan hadits riwayat Imam Nasai dalam kitabnya Sunan Nasa’i Sugro:
أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ حُسَيْنٍ وَهُوَ الْمُعَلِّمُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: " وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ
            Berdasarkan hadits-hadits diatas bisa di simpulkan bahwa realisasi iman dalam kehidupan sosial tak bisa lepas dari mencintai sesama muslim. Karena iman seseorang tidak bisa sempurna sebelum dia mencintai sesama muslim.
II.            MUSLIM TIDAK MENGGANGGU ORANG LAIN
Iman merupakan sesuatu yang ada dalam hati. Perbuatan lahiriah manusia merupakan cerminan dari apa yang ada dalam hati, sehingga keimanan seseorang itu tercermin dari apa yang diperbuat. Seorang beriman tidak akan mengganggu orang lain karena seorang muslim yang sempurna imannya  adalah orang yang dengannya orang lain merasa aman dan tenang sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori:

حَدَّثَنَا ادم ابن ابي إياس، قَالَ: حَدَّثَنَا شعبة عن عبدالله ابن أبي السفر و إسماعيل عن الشعبي عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رضي الله عنهماعن النَّبِيُّ قال: " الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ "
          Artinya: “seorang muslim adalah orang yang selamat dari perkataan dan perbuatannya orang-orang muslim yang lain, dan muhajir adalah orang yang berhijrah dari hal-hal yang dilarang Allah.”
           
Seorang muslim dalam hadits di atas menurut ibnu hajar al- asqolani menujukkan arti muslim yang sempurna karena al di dalmnya menunjukkan arti kesempurnaan. Sehingga keislaman seseorang dapat dikatakan sempurna jika bisa menjaga perkataan dan perbuatannya agar tidak sampai mengganggu orang lain. Peryataan hadits di atas juga dapat dijadikan penjelasan tentang tanda kesempurnaan keislaman seseorang yaikni selamatnya kaum muslimin dari buruknya perkataan dan perbuatannya.. hadits ini juga memberikan motivasi untuk bermuamalah (berinteraksi) terhadap tuhan dengan baik,  dengan  memperbaiki interaksi hubungan sesama manusia. Hadts ini merupakan salah satu hadits imam Bukhori yang berbeda dengan hadits imam Muslim. Senada dengan hadits ini juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari sahabat Anas “والمؤمن من أمنه الناس2[2], senada dengan hadit ini, hadits yang diriwayatkan imam Tirmidzi dalam kitabnya Jami’ At-tirmidzi :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : " الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ "، قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Juga semakna dengan hadits Imam Ahmad dalam musnadnya:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، وَيُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ، وَحُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ يَعْنِي ابْنَ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ  " الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السُّوءَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَبْدٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ "، حَدَّثَنَاه عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، وَيُونُسَ، وَحُمَيْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ أَنّ النَّبِيَّ  قَالَ: " الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ "، فَذَكَرَ مِثْلَهُ

III.            Realisasi iman dalam menghadapi tetangga, tamu dan bertutur kata
Keimanan seseorang itu juga terealisasi dalam  tindak tanduk keseharianya . tindak tanduk seorang mukmin itu bisa mencerminkan kadar keimananya terutama. Salah satu indikator kesmpurnaan iman seseorang dapat dilihat dari kehidupan sosialnya seperti hubungannya dengan tetangga, bagaimana cara menerima tamu dan bertutur kata. Ciri orang yang beriman dalam hubungannya dengan tetangga dituntut untuk berhubungan dengan baik, dalam menerima tamu juga harus menerimanya dengan baik juga begitu juga dalam bertutur kata dalam rangka menyempurnakan keimanannya yang berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim :
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيى، أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ رَسُولِ اللَّهِ  قَالَ: " مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Senada dengan hadits dalam kitab Sunan Nasa’i Kubro :
عَنْ سُوَيْدِ بْنِ نَصْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ: " مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخَرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
Juga sesuai dengan hadits:
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، قَالَ: أَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: نَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، وَجَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ، وَأَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ.ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو صَالِحِ بْنُ أَبِي طَاهِرٍ الْعَنْبَرِيُّ، قَالَ: أَنَا جَدِّي يَحْيَى بْنُ مَنْصُورٍ الْقَاضِي، قَالَ: نَا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ، قَالُوا: نَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، قَالَ: نَا الأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ، : " مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ ".رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، وَأَخْرَجَاهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الْحَصِينِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ.أَخْبَرَنَاهُ أَبُو صَالِحِ بْنُ أَبِي طَاهِرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي جَدِّي يَحْيَى بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: نَا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ، قَالَ: نَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالا: نَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنْ حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، فَذَكَرَهُ، غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ: " فَلا يُؤْذِي جَارَهُ ".وَكَذَلِكَ قَالَهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ،  أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، قَالَ: أَنَا أَبُو حَامِدِ بْنُ بِلالٍ، قَالَ: نَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ الْمَرْوَزِيُّ، قَالَ: نَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ، قَالَ: أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، فَذَكَرَهُ







BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Keimanan seseorang itu mempunyai cabang-cabang yang banyak. Manusia yang merupakan makhluk sosial perlu untuk menciptakan interaksi yang baik sesama manusia. Islam yang membawa ajaran yang lengkap dalam kehidupan manusia memberikan petunjuk untuk melakukan interaksi sesama manusia dengan baik beserta petunjuk-petunjuk lainnya. .
Iman sendiri mempunyai banyak cabang yang harus dipenuhi untuk menyempurnakan keimanan. Sehingga kualitas keislaman seseorang itu diukur dari kadar keimanannya. Apabila kadar keimanan seseorang itu rendah  maka bisa dipastika kualitas keislamannya juga rendah.  Sehingga diperlukan kajian tentang cabang cabang iman secara mendalam yang bersumber dari hadits hadits soheh, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial karena manusia adalah makhluk sosial. Sehingga kajian tentang realisasi iman dalam kehidupan sosial berdasarkan hadits-hadits shohih sangat diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Imam Hafid Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin hajar Al-Asqolani. 2008. Fathul Bari. DKI, Lebanon.
Husain Afandi, Husunul Hamidiyah
Jawami’ Al-Kalim


[1] Husiain Afandi, Husunul Hamidiyah  hal. 6
[2] Ibnu Hajar Al-Asqolani, Fathul Bari hal.74

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ok