Kalam Hikmah

Kamis, 04 September 2014

Warna Warna Taqwa


Warna Warna dan rasa Ketaqwaan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ  سيّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى  سيّدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.  قال الله تعالى في كتابه الكريم وهو أصدق القائلين : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم :( (إذ جعل الذين كفروا في قلوبهم الحميّة حميّة الجاهليّة فأنزل الله سكينته على رسوله , وعلى المؤمنين وألزمهم كلمةَ التقوى وكــانوا أحقَّ بها وأهلها , وكــان الله بكلّ شيء عليما ) أمّا بعد فيا معشر المسلمين ...... إتّقوا الله .... إتّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون ..
Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah :
Monggo…….
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah.
Marilah kita selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Peningkatan ketaqwaan dalam arti usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Masing-masing manusia berbeda cara mencapai ketaqwaan ini. Ada seorang mufassir dan muhaddits terkemuka, Syekh Muhammad bin ‘Alan Ashodiqy (1996- 1057 H). Membagi ketaqwaan itu menjadi 3 tingkatan.
Pertama, golongan yang berusaha menjauhkan diri dari ancaman siksa yang kekal. Dengan jalan membersihkan diri terhadap sifat syirik kepada Allah SWT. Ini sebagaimana disebutkan dalam surat Alfath : 26
إذ جعل الذين كفروا في قلوبهم الحميّة حميّة الجاهليّة فأنزل الله سكينته على رسوله , وعلى المؤمنين وألزمهم كلمةَ التقوى وكــانوا أحقَّ بها وأهلها , وكــان الله بكلّ شيء عليما
yang maknanya : ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Dalam firmanNya ini Allah SWT mewajibkan kepada orang-orang mukmin agar mencapai taqwa dengan menjauhkan diri dari sifat syirik kepada Allah SWT, memurnikan kepercayaannya, hanya kepada Allah SWT. Sehingga nantinya akan selamat dari siksaan api neraka yang kekal. Jadi golongan ini hanya mementingkan agar dirinya selamat dari siksa neraka yang kekal. Mereka tidak sanggup lebih dari itu. Mereka seakan rela masuk neraka asal tidak selamanya. Inilah tingkatan taqwa yang terendah.

Kedua, yaitu golongan yang berusaha menjauhi segala sesuatu yang berakibat dosa. Apakah dosa yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang karena dilarang oleh agama, seperti makanan yang diharamkan. Atau keengganan untuk melakukan sesuatu yang diperintah oleh agama, seperti meninggalkan shalat wajib. Kelompok inilah yang dimaksudkan Allah SWT sebagaimana firmanNya surat AlA’Raf : 96):
ولو أنّ أهل القرى أمنوا وانّقوا لفتحنا عليهم بركــاتٍ من السّماء والأرض ولكن كذّبوا فأخذناهم بما كــانو يكسبون
Artinya : Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Dalam ayat ini, Allah menjanjikan pemberian rahmat bagi orang yang beriman. Taqwa yang dimaksud dalam firman ini menurut tafsir Alkhozin ialah taqwa dalam arti menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah SWT dan apa saja yang di haramkanNya. Maksudnya bukan hanya sekedar memurnikan kepercayaan kepada Allah saja, akan tetapi kepercayaan yang sudah tertanam itu diwujudkan dalam bentuk nyata, yakni dengan menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Golongan ini hanya mementingkan dirinya sendiri untuk selalu menghindar dari hal-hal yang mengakibatkan dosa. Tentunya setelah terlebih dahulu menanamkan keimanannya. Mereka tidak mampu berbuat selebihnya. Mereka tidak mampu menjalankan perintah-perintah agama secara sempurna. Mereka tidak mampu melakukan amalan-amalan yang mendapatkan pahala untuk kepentingan ketaqwaannya. Golongan ini adalah golongan pertengahan, lebih tinggi dibanding golongan yang pertama.

Ketiga, golongan yang berusaha membersihkan hatinya yang sedang lalai dan mengerahkan segalanya hanya untuk Allah SWT semata. Apa yang dikerjakan selalu disandarkan kepada Allah SWT dalam rangka mencari keridhoanNya. Taqwa inilah yang dikatakan betul-betul taqwa kepada Allah SWT. Dan taqwa inilah yang sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firmanNya surat Ali Imran : 102
ياأيّها الذين أمنو اتّقو الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلا وأنتم مسلمون
\yang maknanya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Tuntutan taqwa pada ayat ini sangat berat, karena taqwa di sini mengandung tiga unsur. Pertama, harus mentaati ajaran agama, baik yang berbentuk perintah ataupun larangan. Dan tidak boleh sedikitpun lalai, atau berbuat maksiyat. Kedua, harus selalu ingat kepada Allah SWT, tanpa melupakan sejenakpun. Ketiga, harus selalu bersyukur kepadaNya, tanpa pernah mengingkarinya. Karena ketiga unsur ini amat berat, maka muncullah seorang sahabat yang mengungkapkan keberatannya kepada baginda Rasulullah SAW. : Ya Rasulullah, siapa yang mampu menjalankan taqwa yang sepert6i itu, maka turunlah surat attaghobun ayat 16 yang berbunyi :
فاتّقو الله ماستطعتم واسمعوا وأطيعوا وأنفقوا خيرا لأنفسكم , ومن يوق شُحَّ نفسهِ فأولئك هم المفلحون
Yang artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang orang yang beruntung.
Setelah turun ayat ini maka taqwa yang mengandung unsur diatas hendaklah dilakukan dalam batas kemampuan maksimal, sebagai manusia, wajarlah kalau sahabat nabi menyatakan keberatan dalam menjalankan taqwa sepenuhnya, pada tingkatan yang terakhir ini, sebab tuhan menciptakan manusia disertai dengan hawa nafsu.

Pengendalian hawa nafsu inilah yang paling sulit dilakukan oleh manusia, walaupun Allah SWT telah berkali kali mengingatkanya agar berhati hati dalam menghadapi hawa nafsu.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah
·           Jika kita mulai berorientasi serba duniawi, memburu duniawi itu tandanya Allah sedang menghina kita.
·           Jika kita berorientasi dalam Ubudiah, itu tandanya Allah sedang menolong kita,
·           Jika kita sedang sibuk dengan urusan sesama manusia hingga lupa dengan Allah itu tandanya Allah sedang berpaling dari kita.
·           Jika kita dijauhkan dari rintangan rintangan menuju kepadanya, sesungguhnya Allah sedang mendidik budi pekerti kehambaan kita.
·           Jika kita bergairah dalam munajat kepadaNYA, itu tandanya Allah sedang mendekati kita.
·           Jika kita Ridha atas ketentuanNYA, dan Ridha bersamanya, itu tandanya Allah Ridha kepada kita.

Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah:
إنّ أحسن الكلام كلام الله الملك العلاّم , والله سبحانه وتعالى يقول وبقوله يهتدي المهتدون وإذا قرء القرأن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم برحمون ........ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم  بسم الله الرحمن الرحيم : والعصر ............. بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم.......

Khutbah kedua

الحمد لله الملك الوهاب، الجبارالتواب، الذي جعل الصلات مفتاحا لكل باب، فالصلاة والسلام علي من نظر الي جماله تعالي بلا سطر ولا حجاب وعلي جميع الآل والأصحاب وكل وارث لهم الي يوم المآب. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَْلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ok